Jumat, 20 April 2012

Sudahkah Engkau Ikhlas Bekerja, Anakku?


Wushhh......

KRL Ekonomi berlalu melewati. Kibaran rambutnya yang lebat masih terlihat. Lembayung senja mulai menyembunyikan diri diatas cakrawala. Pertanda waktu maghrib akan terlewati sebentar lagi. Burung-burung pun sudah sejak sore tadi kembali ke sarangnya. Banyak orang berlalu lalang pulang dari kewajiban mereka berusaha bekerja. Merealisasikan salah satu  ajaran Islam yang universal. Agar memiliki kesadaran untuk memiliki sikap iffah pada diri setiap insan.

Ia dan ayah masih berdiri menunggu. Kereta tadi bukan yang mereka akan naiki untuk pulang. Tujuan mereka adalah kota hujan berjuta angkot. Ini pengalaman pertamanya menemani ayah yang selama ini mendidiknya dengan baik bekerja. Tidak seperti biasa, mereka pulang dengan kereta. Padahal dari cerita yang biasa ia dengar, ayah sering pulang menaiki bis.Tapi, ia tak memedulikannya karena akan mendapatkan kelelahan dalam berpikir. Peluh dan keringat sudah sejak tadi keluar turun menyusuri setiap kulit mereka.

Pernah ia berpikir dalam benaknya, “aku sangat tergugah mengamati kehidupan ayah. Setiap hari pulang pergi mencari penghasilan untuk menghidupi keluarga. Aku memiliki banyak adik yang masih membutuhkan biaya untuk bersekolah. Ia terlihat sangat lelah setiap pulang dari bekerja. Keletihan selalu disembunyikan ketika menghadapi anak-anaknya. Padahal aku dapat melihat dari raut wajahnya yang sangat kelelahan setiap pulang kerja. Satu hal yang kusukai dari cara ia mendidik anak-anaknya. Ayah suka bercerita tentang kehidupan masa kecilnya. Kadangkala juga menceritakan pengalaman yang baru ia dapatkan. Ia selalu berharap anak-anaknya dapat memiliki kehidupan yang lebih baik darinya. Secara tidak langsung dalam alam bawah sadarku muncul sebuah energi jiwa untuk menjadi yang terbaik dari yang lain. Itulah salah satu alasan mengapa aku sangat menginginkan menjadi orang yang diharapkan kedatangannya untuk merubah dunia jauh lebih baik pada saatnya nanti.”

Ia melihat ayah masih berdiri tegak berjiwa tegar. Sesekali terlihat singgungan senyum di bibir ketika ia menatap wajah ayah. Dulu ia tidak mengetahui tentang apa arti dari tanggung jawab seorang ayah dalam bekeluarga. Kini, ia sudah memahaminya. Sudah menjadi sunnatullah bahwasanya manusia tidak akan memperoleh nikmat, rezeki, dan makanan yang ada diatas dan dibawah tanah kecuali dengan kerja keras dan usaha yang sungguh-sungguh. Dari sanalah ia pun menjadi mengerti, mengapa seorang ayah berjuang keras menghidupi keluarga. Ia memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dirinya maupun keluarga. Bukankah sudah diketahui akan hal ini?

كفى بالمرء إثما أن يضيّع من يقوت.رواه أبو داود
“Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menelentarakan orang yang menjadi tanggungannya.”H.R Abu Daud

Tanpa sadar mereka sudah berdiri lebih dari seperempat jam. Kereta yang ditunggu-tunggu ternyata terlambat dari apa yang dikira. Ia dan ayah masih kuat membawa tas dipunggung. Dari arah utara tiba-tiba terdengar suara kereta bergerak melambat. KRL Ekonomi AC yang sejak tadi ditunggu telah datang. Suara decitan rem sedikit menggangu pendengaran beberapa saat. Dengan agak terburu-buru mereka memasuki kereta dengan segera. Takut tak mendapatkan tempat duduk kosong untuk menunggu kereta sampai tujuan. Setelah susah payah berjuang saling mendahului, akhirnya mereka mendapatkan tempat duduk walau sempat bersikukuh dengan seorang penumpang.

Sssshhhh...............

Pintu otomatis di setiap sisi berhadapan mulai menutup. KRL Ekonomi AC yang mereka naiki mulai berjalan meninggalkan stasiun Jakarta Kota. Tujuan mereka adalah tempat pemberhentian stasiun terakhir di Pasar Anyar. Beruntung sekali mereka mendapatkan gerbong yang tak begitu sesak. Dengan keadaan seperti itu bercengkerama bukanlah hal riskan dihadapan penumpang lain. Tapi tetap dengan catatan tidak mengganggu suasana tentunya.

Sepanjang perjalanan mereka berdua menitikberatkan barang yang dibawa. Penjagaan perlu diperketat agar tak lepas dari pegangan. Ayah selalu memperingatkannya bahwa hidup ini selalu berada dalam koridor perjuangan. Ia tahu akan hal itu. Setiap insan lahir ke dunia ini berawal dari perjuangan dengan jutaan kromosom dari spermatozoid seorang ayah. Dan ketika ada satu spermatozoid berhasil menembus ovum dengan akrosom yang dimilikinya melalui proses pembentukan apparatus golgi, saat itulah 2 kromosom haploid dari ayah dan ibu melebur menjadi sebuah zigot diploid yang pada akhirnya akan berkembang menjadi janin di dinding endometrium ibu. Hingga Allah mengisi raga janin itu dengan ruh jiwa di saat kandungan berumur 4 bulan. Itulah masa perjuangan setiap insan sampai pada saat ditentukan akan lahir ke dunia menyongsong koridor perjuangan baru.

Tiba-tiba bahu kanan dirinya ditepuk telapak tangan ayah. Dengan wajah tetap cerah dan singgungan senyum yang khas ia berkata, “nak, ayo kita membaca wirid petang hari. Masih ada waktu sampai adzan Isya berkumandang. Tadi kita belum sempat membacanya. Ada sekitar satu setengah jam lagi hingga kita sampai tujuan.”

Itu benar. Ia dan ayah belum sempat melakukan aktivitas yang biasa dilakukan pagi dan petang. Dengan senyuman pun ia mengikuti ayah membaca wirid harian tersebut. Dengan syahdu suara mereka dengan lembut tanpa sadar menyentuh hati setiap penumpang yang ada di gerbong tersebut. Hingga sekitar dua puluh menit kemudian mereka akhirnya selesai dari wirid mereka. Langit dan bumi beserta isinya mengaminkan apa yang dipanjatkan dari wirid tersebut. Adzan Isya pun berkumandang memanggil setiap muslim untuk menunaikan kewajibannya.

“Ayah, adzan Isya sudah berkumandang. Alhamdulillah tadi kita sudah berinisiatif untuk menjamak taqdim isya dengan maghrib di masjid depan stasiun tadi. Oya, sekarang keretanya sudah masuk daerah mana, yah?” Dengan sopan dan dijaga ia bertanya kepada ayah. Beliau hanya melihat wajahnya dengan lekat. Wajahnya cerah tak terlihat sedetik waktu pun kecapekan yang ayah tampakkan kepadanya.

“Anakku, alhamdulillah kita sudah melewati stasiun Pondok Cina. Mungkin sekitar beberapa stasiun lagi kita sampai di Bogor Kota. Ayah mengingat satu hal. Ini dipicu oleh pernyataanmu tadi. Maukah engkau mendengar cerita ayah kembali? Ini tentang salah satu kisah tentang keikhlasan yang ayah alami. Kisah ini terjadi sekitar sepekan yang lalu di masjid yang sama kita singgahi tadi. Jadi, maukah engkau mendengarnya, anakku?”

Wajah ayah yang teduh. Dengan anggukan kecil ia menerima permintaan ayah untuk mendengar dengan baik apa yang akan disampaikan kepadanya. Mereka memperbaiki posisi duduk agar nyaman bercengkerama. Tas di punggung dipindah ke pangkuan mereka. Keadaan gerbong kereta masih terasa sunyi hingga ayah mulai bercerita dengan deheman khasnya dan membaca bismillah.

“Anakku, tentunya engkau masih mengingat tentang sifat iffah. Yaitu menjaga harga diri dan kehormatan. Kisah yang akan ayah ceritakan berhubungan dengan kerja. Banyak hadits yang menyebutkan akan hal ini. Tahukah engkau salah satu dari hadits tersebut?” Pikirannya melayang mengingat kembali hadits-hadits yang ia tahu mengenai hal tersebut. Dengan satu hentakan kaki dan kepalan tangan ia mengingatnya. Dengan kepercayaan diri ia menyebutkan hadits yang ia ketahui.

لأن يحتزم أحدكم حزمة من حطب فيحملها على ظهره فيبيعها خير له من أن يسأل رجلا فيعطيه أو يمنعه. متفق عليه بلفظ مسلم
“Apabila salah seorang diantara kamu mencari kayu bakar dan mengikatnya lalu memikulnya kemudian menjualnya, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik memberinya ataupun tidak.” H.R. Bukhari, Muslim

اليد العليا خير من اليد السفلى و العليا هي المنفقة و السفلى هي السائلة. متفق عليه
“Tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah, diatas adalah yang memberi, sedangkan dibawah yang meminta-minta.” H.R Bukhari, Muslim

“Tepat sekali, anakku. Islam mengajarkan kita untuk menjaga harga diri dan kehormatan. Begitupun juga Islam tidak menganggap keengganan bekerja dan berusaha dengan mengharap rezeki dari arah yang tak diduga-duga termasuk tawakkal, sebagaimana dipahami sebagian orang awam yang tidak berilmu seperti yang dikatakan Imam Ahmad. Sebaliknya, Islam menganggap sikap itu sebagai tawakkul (bergantung).”

“Bergantung dan enggan berusaha merupakan mentalitas yang tidak dikehendaki Islam. Ini merupakan tuntutan agar kita ummat Islam tidak terjerumus kedalam jurang kehinaan. Kita sebagai ummat pilihan yang diamanahi untuk memimpin harus bisa menyeleraskan antara kemuliaan Islam dan kepribadian moral kita. Dalam hal ini juga mempengaruhi bahwasanya eksistensi Islam bergantumg terhadap ummatnya. Bagaimana jadinya jika kita menjadi orang yang hanya bisa meminta-minta? Bukankah itu sebuah kehinaan bagi diri dan agama Islam, wahai anakku?”

Dengan bijak ayah memberikan wejangan kepadanya. Tapi ini belum selesai. Baru pembukaan yang baru ia dengar.

“Begitulah, anakku. Ayah tahu engkau pasti bisa memahaminya. Islam mengajarkan kita untuk tidak enggan berusaha. Jika kita menginginkan sesuatu, maka kita harus berusaha mendapatkannya. Gabungkanlah antara keinginanmu dan kehendak Allah SWT. Jika engkau benar-benar berusaha mencapai apa yang kau inginkan, maka Allah pun pasti akan memberikannya dengan qadar-Nya yang baik. Tentunya tetap dalam kebaikan dan kemaslahatan dirimu dan masyarakat luas.”

Ayah kembali memperbaiki posisi duduknya. Gelagat ayah terlihat ingin mulai menceritakan kisahnya. Ia tahu wejangan awal tadi sebagai pemahaman awal untuk dapat menghayati cerita yang akan disampaikan ayah kepadanya. Dan sekarang cerita akan segera dimulai.

“Pekan lalu merupakan salah satu pengalaman yang tak bisa dilupakan bagi ayah. Ini merupakan kisah tentang bagaimana keikhlasan yang sepatutnya kita tunjukan pada kepribadian kita. Tahukah engkau, anakku? Sejak saat itu ayah berusaha untuk selalu menjadi hamba yang selalu ikhlas hanya mengharapkan ridho Allah Ta’ala. Awal kisah ini dimulai saat ayah pulang sore dari kantor tempat ayah bekerja.”

Ayah dalam keadaan letih sekali. Tidak biasanya tubuh terasa lemah. Hampir saja ayah jatuh ketika berjalan menuruni tangga. Alhamdulillah saat itu ada teman yang menahan ayah agar tidak jatuh.Dalam keadaan seperti itu ayah memutuskan untuk tidak pulang menaiki bis seperti biasa. Ayah keluar dari gerbang kantor saat langit sudah menampakkan lembayung senjanya. Melihat waktu sudah mulai gelap dan adzan maghrib pun sudah mulai berkumandang, ayah memutuskan untuk sholat maghrib dahulu di masjid depan stasiun dan jam tujuh lebih nanti pulang menaiki kereta.

Ayah menitipkan sepatu dan beranjak untuk mengambil air wudhlu. Dengan kesegaran berwudhlu wajah ayah terlihat sedikit lebih cerah. Segera ayah memasuki masjid agar tidak tertinggal sholat berjama’ah dan menjadi masbuq. Setelah imam salam, ayah berdzikir dan berdo’a kepada Allah meminta diberikan anak-anak dan keturunan yang qurrata ‘ayun. Tak lupa ayah melaksanakan sunnah rawatib ba’da maghrib. Dan ayah pun berkemas untuk pergi meninggalkan masjid untuk pulang.

Pikiran ayah tiba-tiba terlintas terhadap seorang bapak yang tadi sholat disamping ayah. Bukankah bapat tersebut tadi duduk didepan masjid sepanjang sore hingga akhirnya adzan maghrib berkumandang? Ayah ingat bapak itu bekerja sebagai tukang pijat dan urut. Dengan segala pertimbangan antara keberangkatan kereta dan keletihan, ayah mendekati bapak tersebut untuk mendapatkan jasanya.

“Bapak, tolong bisa pijatkan saya? Kebetulan sekali badan saya terasa letih sekali.”

Ayah meminta jasa bapak itu sambil menyerahkan uang sepuluh ribuan. Sebelum memijat tubuh ayah, bapak itu terlihat kurang bersemangat memulai kerjanya. Mungkin karena uang sepuluh ribuan yang ayah berikan.Tapi, tak apa. Ayah tak memedulikannya. Walaupun sebenarnya ayah kurang mendapatkan manfaat dari pijatan bapak tersebut.

Detik-detik berganti menjadi hitungan menit. Sudah sekitar 5 menit ayah dipijat tanpa merasakan manfaatnya sekalipun. Sempat ayah melihat barang-barang bawaan bapak itu. Terlihat minyak urut berjejer tampak diatas sehelai kain. Ayah mengambil salah satu minyak tersebut.

“Bapak, ini minyak yang digunakan untuk memijat?”

“Iya, betul.”

Dengan wajah kurang senang bapak tersebut menjawab pertayaan ayah. Akhirnya sambil bapak itu bekerja, ayah sedikit bercakap-cakap dengan bapak itu.

“Pak, minyak ini sering saya lihat dijual di beberapa tempat. Di toko kelontongan sempat juga saya melihatnya. Apakah minyak ini bagus untuk pijat dan urut?”

“Benar, minyak ini sudah teruji dengan baik. Saya sendiri nyaman bekerja menggunakan minyak tersebut. Kalau yang sekarang saya gunakan ini campuran antara minyak dengan beberapa ramuan alami.”

Dengan baik bapak tersebut menjelaskan khasiat minyak tersebut kepada ayah. Wajah tidak senangnya sedikit berubah dengan pertanyaan dan tanggapan yang baik dari ayah. Tanpa sadar akhirnya percakapan ayah dengan bapak tersebut berlanjut hingga kehidupan bapak itu yang serba tak mencukupi. Ayah mendengarkan dengan khidmat celotehan bapak tersebut hingga akhir. Hingga ayah pun teringat minyak tersebut dapat bermanfaat jika ayah beli untuk digunakan di rumah.

“Pak, minyak ini dijual berapa? Saya tertarik untuk membelinya. Bisa jadi di rumah nanti bermanfaat.”

“Ooh... itu harganya sepuluh ribuan. Murah. Tak bisa ditawar-tawar lagi.”

“Kalau begitu sepuluh ribu yang tadi untuk beli minyak ini saja. Boleh kan, pak?”

“Oya, boleh-boleh. Baiklah, pak.”

Dengan wajah sangat sumringah bapak itu menerima tawaran ayah untuk membeli minyak tersebut dari uang sepuluh ribuan yang pada awalnya untuk membayar jasa pijatan bapak itu. Saat-saat itu menjadi masa yang nyaman sekali bagi ayah ketika dipijat. Setelah uang sepuluh ribuan itu dipakai untuk membeli minyak, bapak itu terlihat senang sekali. Ia merubah cara pandangnya terhadap ayah dan berusaha semaksimal mungkin melakukan kerjanya. Tahukah engkau, anakku? Baru setelah itu ayah merasakan manfaat pijatan dari bapak tersebut. Dari pijatan yang awalnya hanya di kaki, ayah meminta bapak tersebut untuk memijat kepala ayah. Ada kenikmatan tersendiri saat ayah dipijat dengan ketulusan dari bapak itu. Tapi, ada kejadian yang perlu diketahui. Kejadian ini membuat ayah tergugah. Ini mengalir apa adanya. Ayah tak merekayasakannya dari awal.

“Bapak, pijatannya enak sekali. Sudah berapa lama bekerja seperti ini? Sepertinya bapak sudah berpengalaman.”

“Oh, ya. Kira-kira saya sudah bekerja sekitar 2 tahunan. Sebelumnya saya tak memiliki pekerjaan apapun. Kehidupan saya amburadul. Tapi alhamdulillah sekarang saya sudah sadar akan tanggung jawab yang saya pikul.”

“Itu benar, pak. Setiap manusia memiliki tanggung jawab masing-masing yang dipikulkan kepadanya. Alhamdulillah ternyata sudah hampir setengah jam saya dipijat. Terima kasih banyak, pak. Pijatannya enak dan sekarang badan saya terasa lebih segar. Apalagi ditambah dengan hadiah minyak yang bapak berikan. Bahkan uang sepuluh ribu pun bapak berikan kepada saya. Padahal bapak sudah memijat saya dengan hebat. Sekarang minyaknya sudah ada di tangan saya. Uang sepuluh ribuan tadi, mana? Kembalikan lagi kepada saya, pak.”

Setelah mendengar perkataan ayah, wajah bapak itu terlihat melas sekali. Cemberut di bibirnya sama sekali tak nyaman dilihat. Dia sangat bingung kenapa uang sepuluh ribu yang sudah diberikan kepadanya harus dikembalikan?. Bapak itu memegang uang sepuluh ribuan itu sambil memandangnya dengan tatapan berharap. Ia sama sekali tak ingin melepaskannya. Ayah hampir saja tertawa karena saking lucunya kejadian tersebut. Lama sekali bapak itu memandang uang sepuluh ribuan itu, anakku. Ia sama sekali tak ingin melepaskan dengan mudah hasil jerih payahnya. Akhirnya dengan masih penuh keheranan dan kasihan bapak itu menyerahkan uang sepuluh ribuan itu kepada ayah.

“Baiklah, pak. Terima kasih atas segalanya. Bapak sudah memijat saya ditambah dengan hadiah minyak sekaligus memberikan ongkos uang sepuluh ribu kepada saya. Bapak baik sekali.”

Ayah berkata dengan menampakkan senyuman kepada bapak itu seraya memperbaiki posisi duduk. Dengan wajah yang masih melas saja bapak itu menundukkan pandangannya. Ia kebingungan dengan aksi yang ayah lakukan. Ayah hanya bisa tersenyum saja dan tertawa dalam hati. Kenapa bisa ya? Bapak itu melakukan hal yang tak dikira. Jika ada disana, engkau akan melihat kejadiannnya dengan seksama, anakku. Ayah pastikan engkau pun juga akan bingung dengan sikap ayah dan tertawa atas tanggapan yang diberikan bapak tersebut. Tapi ini belum selesai, anakku.

Kemudian, ayah merogoh saku celana mengambil uang lima puluh ribuan dan menggabungkannya dengan uang sepuluh ribuan tadi untuk diberikan kepada bapak itu. Awalnya ia bingung, tapi akhirnya pun bapak itu mengerti akan pelajaran yang ayah berikan kepadanya. Bapak itu menerima uang enam puluh ribu tersebut sambil mengucapkan terima kasih dan menciumi beberapa kali tangan ayah. Ayah berusaha mengelak tapi pengangan bapak tersebut sangat kuat di pergelangan tangan ayah.

“Sudahlah, pak. Jangan berlebihan. Saya mohon lepaskan pegangan tangan bapak dan berhenti menciumi tangan saya. Saya hanya ingin memberikan pelajaran berharga untuk bapak. Jadilah seorang pekerja yang tulus dan ikhlas hanya mengharapkan ridho Allah SWT. Jangan bekerja hanya karena mendapatkan selembar uang sepuluh ribuan. Tapi bekerjalah dengan semaksimal mungkin dengan memberikan semua usaha yang kita miliki. Keridhoan Allah yang seharusnya kita cari. Bukan bekerja mengharapkan pamrih dari orang lain. Dan bekerjalah dengan hati yang berbahagia karena kita menyelesaikan tugas kita dengan baik. Karena dengan keikhlasan saat bekerja, Allah pasti melihatnya dengan memberikan balasan yang setimpal kepada kita.Bapak bisa memahaminya, kan?”

“Iya, saya bisa memahaminya. Terima kasih atas nasihatnya. Insya Allah saya akan melakukan semua nasihat yang bapak berikan untuk kedepannya. Sekarang saya mengerti. Bekerja itu harus mengharapkan ridho Allah. Walaupun manusia ridho, tapi belum tentu Allah ridho atas usaha dan kerja kita.”

“Benar, pak. Kita sebagai seorang muslim sudah sepantasnya menjadikan ridho Allah sebagai tujuan utama kita. Tentang keridhoan manusia terhadap diri kita, itu menjadi hal lain yang sepatutnya kita renungi. Setiap manusia di dunia ini memiliki cara pandang yang berbeda. Tergantung dari banyaknya ilmu yang ia miliki. Bisa jadi ada seseorang yang tidak menyukai sikap dan kepribadian kita. Tapi Allah menyukainya dan memuliakan kita dibanding orang lain dengan meninggikan derajat kemulian di sisi-Nya.”

Tanpa sadar air mata mulai mengucur deras di pelupuk mata bapak tersebut. Ayah merasa terharu dengan pernyataan bapak itu. Dari kejadian ini ayah berharap bisa menjadi seorang yang ikhlas dalam segala sesuatu. Khususnya ketika bekerja mempertanggung jawabkan keluarga.

“Bapak, bekerjalah dengan sebaik mungkin. Curahkanlah seluruh upaya untuk memaksimalkan kerja kita. Sungguh Allah pasti melihat apa yang kita lakukan. Allah pasti akan memberikan balasan atas segala usaha kita untuk mendapatkan kebaikan bagi diri dan keluarga. Ingatlah! Di setiap kesusahan itu pasti ada kemudahan. Allah selalu menguji kita apakah kita sudah benar-benar menjadi hamba yang beriman serta ikhlas? Allah selalu berada didekat hamba-Nya.”

“Dan yang terakhir, pak. Setiap amal yang kita kerjakan akan diterima di sisi Allah jika kita sudah memiliki dua hal; yaitu keikhlasan dan lurusnya niat serta bekerja secara ihsan berdasarkan perintah Nabi Muhammad saw. Kebenaran batin dalam bekerja akan tercapai jika kita memiliki keikhlasan dan kelurusan niat. Sedangkan kebenaran lahir dalam bekerja akan tercapai jika kita ihsan dalam melakukan sesuatu sesuai ajaran Rasulullah saw. Itu semua terangkum dalam firman Allah SWT."

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُور.لقمان آية  22
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.” Luqman ayat 22.

Pada akhirnya ayah dan bapak itu saling merangkul berpelukan. Air mata bapak itu belum berhenti sejak tadi. Ia terharu dengan sikap dan nasihat yang telah ayah berikan kepadanya. Dalam hati ayah berjanji untuk bisa meluangkan waktu agar dapat berinteraksi dengan orang-orang seperti bapak itu di kemudian hari.

Masih banyak orang awam yang tidak memiliki kecukupan ilmu akan pemahaman mereka tentang Islam secara menyeluruh. Tugas kitalah yang telah mendapatkan pemahaman tersebut untuk menyampaikannya kepada orang lain. Jadilah seorang muslim yang sadar akan eksistensi panji Islam yang kita bawa. Jangan hanya menjadi muslim yang biasa-biasa saja. Kita hidup mengemban tugas menyampaikan Islam kepada ummat manusia. Itulah salah satu konsekuensi karena kita dilahirkan di dunia ini dalam keadaan muslim. Bersyukurlah karena engkau dapat mengecap manisnya pendidikan Islam sejak dini, anakku. Selanjutnya adalah tugas engkau menyampaikan segala hal yang telah engkau dapatkan kepada orang lain khususnya teman-temanmu, tentang pemahaman Islam yang kaffah di kemudian hari nanti. Ayah selalu mendo’akan untuk kebaikanmu.

Sepertinya ayah hampir bercerita setengah jam. Kereta sekarang telah melewati stasiun Cilebut. Hanya tinggal menunggu beberapa saat sampai kereta sampai dan berhenti di stasiun terakhir Bogor Kota, Pasar Anyar. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih. Kereta sampai tepat waktu dari jadwal walaupun keberangkatan tadi agak telat. Ia tersenyum menuruni kereta dibelakang ayah. Ia bahagia setelah mendengar cerita yang membuat ia jauh lebih memahami hakikat hidup ini.

Begitulah. Ia mendapatkan pemahaman yang baik dari cerita yang ayah sampaikan kepadanya. Ia mengerti bahwasanya setiap keinginan akan kebutuhan hidup dapat tercapai dengan berusaha tidak enggan untuk bekerja. Seperti yang dikatakan Rasulullah saw. Bahwasanya ”Allah telah menjadikan rezekiku dibawah naungan tombakku”. Karena dengan bekerja sama saja kita telah menjaga kehormatan kita untuk tidak meminta-minta. Sikap iffah harus selalu dijaga dalam kepribadian diri. Allah pun telah menjanjikan bahwasanya bumi ini telah dimudahkan bagi kita.

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ.الملك آية 15
“Dialah (Allah) yang telah menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekinya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” Al-Mulk ayat 15.

Tidak hanya itu, ia juga dapat memantapkan slogan abadi setiap muslim tentang keikhlasan. Bahwasanya Allah adalah tujuan utama hidup. Seyogyanya ia bisa mengorientasikan perkataan, perbuatan dan perjuangannya hanya kepada Allah SWT; mengharapkan keridhoan-Nya dan memperoleh pahala-Nya. Bukan hanya sekedar mendapatkan keuntungan duniawi seperti materi, prestise, pangkat, gelar, kemajuan atau kemunduran. Dengan itulah ia menjadi tentara muslim sejati dengan landasan aqidah yang kuat. Bukan tentara kepentingan dan hanya mencari manfaat dunia. Dunia dan segala isinya sebenarnya adalah hadiah bagi seorang muslim jika dapat selalu istiqomah diatas jalan yang benar. Yang diharapkan adalah seorang muslim itu selayaknya dapat menggenggam dunia dan isinya, bukan dunia yang menggenggamnya dengan cengkeraman syahwat. Akhirnya hanya keridhoan Allah yang sepantasnya kita cari di sepanjang perjalanan hidup kita.


فليتك تحلو و الحياة مريرة
 و ليتك ترضى و الأنام غضاب
 و ليت الذي بيني و بينك عامر
 و بيني و بين العالمين خراب
 إذا صحّ منك الودّ فالكلّ هيّن
 و كلّ الذي فوق التراب تراب 

Dengan-Mu ada kelezatan, meski hidup terasa pahit
 Kuharapkan ridho-Mu, meski seluruh manusia marah
Kuharapkan hubunganku dengan-Mu tetap harmonis
Meski hubunganku dengan seluruh alam berantakan
Bila cinta-Mu kudapatkan, semua terasa ringan
Sebab, semua yang ada diatas tanah adalah tanah belaka

Untuk seluruh ayah di dunia. Kami selalu menunggu kedatanganmu. Mendengar cerita-cerita yang kau berikan. Luangkanlah waktu untuk kami. Kami tahu engkau sibuk bekerja untuk mendapatkan penghasilan menghidupi keluarga. Tetap kami berharap agar engkau berusaha untuk selalu berada di dekat kami. Kami sangat bahagia ketika engkau bercerita tentang masa kecilmu, atau mungkin pengalaman-pengalaman yang baru kau dapatkan. Ayah, kami selalu menunggu kedatanganmu.

Ayah adalah orang terbaik seluruh dunia. Ia memberikan kami pemahaman untuk bisa hidup. Tak hanya sekedar mendapatkan manfaat dunia. Tapi mengajarkan kepada kami untuk bisa menikmati hidup dengan bahagia. Sejatinya hanyalah kebahagian yang selalu dicari setiap insan di dunia.

Ayah. Tahukah engkau? Ada pepatah mengatakan bahwasanya jika ingin melihat kepribadian seseorang lihatlah ayahnya. Kami tahu engkau pasti mengatahui itu. Kesuksesan seseorang bukanlah dilihat dari pencapaian hidupnya. Tapi dilihat dari bagaimana ia bisa mendidik anaknya sebaik mungkin. Agar anak-anaknya bisa menikmati sekaligus menggenggam dunia lebih baik darinya. Jika pada saatnya nanti anaknya lebih baik, berarti saat itulah ia pantas disebut sebagai orang yang sukses. Untuk membangun generasi masa depan yang membanggakan.

Ayah adalah orang yang selalu tegar menghadapi hidup. Ia mengorbankan segala sesuatu agar anak-anaknya bisa bahagia. Dia tidak berbohong atas hakikat yang sebenarnya. Sesungguhnya segala yang dia katakan dan perbuat hanya menginnginkan untuk kebutuhan anak-anaknya. Janganlah pernah berprasangka terhadap perlakuan ayah terhadap kita.

Ayah. Kami disini tetap menunggumu. Diatas bumi Allah yang tiada artinya melainkan untuk kemaslahatan ummat manusia. Walau kami harus menunggu hingga batas waktu, kami kan selalu menantimu. Agar bisa mendengar cerita-ceritamu yang membuat kami selalu senang, tersenyum dan bahkan membuat kami kami tertawa lepas. Berikanlah kami pemahaman untuk mendapatkan kehidupan yang berbahagia. Seperti hikmah yang diberikan kepada anak Luqman melalui perantara ayahnya.

Sungguh, kami selalu menunggu cerita-ceritamu.

Negeri yang Tercelup Kemuliaan Islam

Apa yang menjadikan Mesir begitu mulia? Tidakkah manusia memperhatikan bahwasanya negeri yang gersang itu mendapatkan banyak kemulian dari Allah SWT. Banyak para Nabi yang terlahir di daerah tersebut. Bahkan para ulama dan panglima perang muslim seperti Imam Asy-Syafi’i dan Shalahuddin Al-Ayyubi pun pernah bermukim di Mesir. Tokoh pembaharu abad XIX ummat Islam, Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna dengan pergerakan Ikhwanul Muslimin yang beliau dirikan juga dimulai dari Mesir. Karena itulah masyarakat Mesir takkan pernah rela fitrah mereka yang telah tercelup oleh shibghatullah hilang ditelan kehinaan zaman. Itulah alasan-alasan yang memperkuat dakwah Islam bergulir deras di padang gurun Mesir. Dan itu juga menjadi alasan penulis untuk kembali menggoreskan pena yang tajam ini untuk memberikan karya bagi khalayak.

Berbicara tentang negeri Mesir takkan pernah terlepas dari peradaban dan kebudayaan mereka yang mencengangkan sejak beribu-ribu tahun sebelum masehi. Tersebutlah bangunan-bangunan besar layaknya makam yang telah diketahui banyak orang di seluruh dunia. Tepat sekali. Itulah Piramida Giza, The Great Sphinx, dan banyak lagi seni dan arsitektur Mesir Kuno yang sampai sekarang masih dapat terlihat. Para ahli arkeologi pun sampai saat ini masih menelusuri jejak-jejak peradaban Mesir yang maju tersebut. Pertanyaan yang masih terngiang di kepala mereka adalah bagaimana masyarakat Mesir dahulu membangun bangunan semegah Piramida pada ribuan tahun sebelum masehi. Apakah kehidupan di bumi ini layaknya sebuah siklus yang terus saling berganti peradaban? Itulah yang menjadi pertanyaan besar bagi sebagian besar kalangan konspirator yang ada di dunia. Tapi, penulis tidak akan melakukan pembahasan tentang Mesir dalam cakupan tersebut.

Mari memulai dari sejarah singkat negeri ini dari peradaban Mesir kuno. Dan pembahasan akan mengerucut kepada peradaban Islam yang mewarnai Mesir. Khususnya dalam konteks pergerakan masyarakat muslim Mesir yang masih terlihat hingga saat ini. Semoga Allah memperkenankan agar dakwah Islam terus bergulir di tanah Mesir hingga menjadi pusat penyebaran Islam dengan negara-negara Timur Tengah lainnya dan seluruh dunia pun menyakini bahwa perjuangan ummat Islam dalam menyebarkan agama Allah takkan sia-sia belaka. Maka, lihatlah belasan tahun mendatang! Dunia akan tunduk pada eksistensi Islam dalam memimpin peradaban dunia.

Telah diketahui bahwa Piramida Giza dan bangunan-bangunan identik lainya dibangun pada zaman peradaban Mesir kuno. Dan pada zaman ini pun diperkirakan Fir’aun dan Nabi Musa as. hidup dan saling berlomba memberikan pengaruh didalam masyarakat Mesir kala itu. Allah telah berfirman di Al-Qur’an yang menyebutkan bahwa jasad Fir’aun yang tenggelam di Laut Merah dibiarkan utuh agar menjadi pelajaran bagi manusia. Itu pun menunjukkan bahwa hanya fitrah suci yang akan menang.

Kemudian di awal-awal tahun masehi datanglah bangsa Yunani, Roma, dan  Byzantium yang melakukan ekspansi di wilayah Mesir. Saint Mark the Evangelist pada abad pertama masehi membawa agama nasrani kedalam masyakarat Mesir. Inilah yang menjadi cikal bakal Kristen Koptik yang berkembang di Mesir. Sampai saat ini populasinya tak lebih dari 5% penduduk Mesir.

Ketika Nabi Muhammad saw. bersama para sahabatnya berhasil menaklukan Persia dan Byzantium, maka tampillah sahabat Amru bin Al-Ash menuju Mesir untuk menaklukkan Byzantium yang menjajah. Seiring berjalannya waktu ke waktu, muncullah banyak para ulama di Mesir. Seperti halnya Imam Asy-Syafi’i. Maka jadilah mayoritas masyarakat Mesir menganut Islam Sunni. Selain itu Shalahuddin Al-Ayyubi pun tampil dalam kesultanan Mamluk yang berhasil kembali manaklukkan Palestina dari tentara-tentara Salib Eropa.

Seiring pergantian kekuasan didalam kubu ummat Islam, akhirnya Mesir dikendalikan oleh kekuasaan Turki Ustmani. Dalam perjalanannya, banyak terjadi perselisihan antara masyarakat dan pemerintah hingga terjadi revolusi pertama kali yang pernah dialami Mesir pada tahun 1952. Sebelumnya, Mesir setelah kekuasaan Turki Utsmani, dijajah oleh Inggris sampai memerdekakan diri pada tanggal 18 Juni 1953. Hingga pada tahun 2011 lalu Mesir mengalami pergolakan revolusi untuk yang kedua kalinya. Presiden Muhammad Husni Mubarrak dipaksa mundur setelah memiliki kekuasaan hampir 30 tahun lamanya.

Membahas tentang peradaban dan pergerakan Islam di Mesir tentunya sedapat mungkin bisa menjelaskan bagaimana ia merasuki hati masyarakat Mesir dengan fitrah suci Islam. Seperti yang sudah dijelaskan diatas bahwasanya sejak Islam masuk ke tanah Mesir, masyarakatnya mulai berubah menjadi manusia robbani yang menjunjung tinggi asas-asas keislaman dalam segala aspek kehidupan. Mereka mulai menyakini bahwa hanya Islam yang hanya bisa mengantarkan pemeluknya kepada kebahagian dunia dan akhirat. Terbukti dengan jelas dan mudah ketika kembali menengok ke belakang saat revolusi yang dilancarkan masyarakat kepada pemerintah militer setahun yang lalu.

Pada hakikatnya masyarakat Mesir saat ini sangat menginginkan Islam kembali berjaya seperti zaman awal-awal Islam memasuki Mesir. Tidak ada kesengsaraan, kebathilan, kehinaan dan bentuk kejahatan lain saat Islam memimpin masyarakat Mesir. Mereka hanya menginginkan Islam kembali berjaya sehingga kehidupan mereka dapat terjalani dengan bahagia untuk menyongsong kekekalan akhirat kelak.

Namun, ada satu pemikiran yang mereka selalu jaga. Paradigma pemikiran mereka terlampau luas untuk bisa diikuti oleh semua ras manusia yang ada di dunia. Mereka satu. Mereka bersatu. Satu pemikiran yang selalu menyakini dan tidak akan pernah hilang tanpa bekas dari kepala mereka adalah bahwa Islam adalah Rahmatan Lil ‘Aalamiin. Rahmat bagi semesta alam. Mereka tidak menginginkan Islam kembali berjaya dengan kekerasan. Tapi, mereka menjunjung sistem demokrasi dengan baik yang telah berjalan hampir di seluruh negara di dunia. Mereka turut berpartisipasi dan berkontribusi untuk mendukung pemimpin mereka dalam memenangkan setiap pemilihan yang ada. Walaupun baru kemarin bakal calon pemimpin mereka dicoret oleh dewan pemilihan umum untuk maju dalam pemilihan presiden secara inklusif.

Ada satu hal yang selalu mereka yakini bersama. Dan karena hal itulah Allah SWT memberikan motivasi yang kuat dan jalan yang mudah untuk menyongsong keinginan mereka. Mereka menyakini Allah SWT akan menolong mereka dalam memenangkan Islam di bumi Mesir. Dan celutun api awal sudah mulai terlihat. Itu menjadi bom waktu yang terus mengalir dalam pergolakan dunia Arab. Walaupun seperti itu, ketetapan hati mereka takkan pernah berubah dengan adanya intervensi dari kalangan barat. Mereka yakin bahwa kekuasaan suatu kaum akan digantikan oleh kaum yang lain sebagai pelajaran bagi manusia.

Terakhir penulis ingin menyampaikan sepatah kalimat bagi khalayak sekalian. Yakinilah dalam hati bahwa setiap pergiliran kekuasaan yang ada di ranah tanah bumi ini pasti Allah SWT memberikan hikmah-hikmah yang dapat dipelajari kembali. Agar setiap kesalahan yang pernah terjadi tidak akan pernah terulang untuk yang kedua kalinya. Lalu, tanamkan selalu dalam hati diri bahwa tsiqoh-nya hati kepada Allah SWT dan Islam, akan selalu memberikan ketenangan sikap dan kesempatan yang luas. Dengan keberadaan orang-orang seperti itu penulis sangat menyakini bahwa Islam akan maju dalam beberapa dekade ke depan. Lihatlah masyarakat Mesir sebagai contoh nyata bagi kalian hai pemuda-pemuda Islam! Janganlah engkau sekali-kali melayangkan pernyataan bahwa Islam dan Al-Qur’an yang ia bawa tidak cocok dengan perkembangan zaman. Bahkan sebaliknya. Sudah sejak beratus-ratus tahun lalu Allah memberikan petunjuk didalam Al-Qur’an sebagai pedoman untuk menjalani hidup. Tidak ada kata kadaluwarsa bagi Al-Qur’an. Maka dari itu jadikanlah syi’ar-syi’ar Islam yang sudah tertanam dalam Al-Qur’an sebagai landasan utama dalam memanfaatkan segala thaghut yang ada di dunia. Karena kalian bisa menikmati semua thaghut itu dengan Al-Qur’an. Tidak dengan kekerasan dan ekstrimitas apapun. Dan hidup ini pun menjadi indah dan membahagiakan.

Egyptians