Tampilkan postingan dengan label My Life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label My Life. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 November 2012

Menumbuhkan Semangat Reformasi dalam Upaya Peningkatan Fungsi Legislasi DPR sebagai Wujud Demokratisasi di Indonesia


Kini sudah hampir 15 tahun berlalu Indonesia melewati masa-masa perbaikan sejak reformasi tahun 1998. Sedikit banyak terlihat perkembangan Indonesia dalam pemulihan pemerintahan di berbagai sektor. Tak bisa dipungkiri walaupun belum menunjukkan perbaikan secara meluas, pemerintah telah memberikan indikasi bahwa Indonesia akan menjadi salah satu negara maju dalam 15 tahun mendatang. Khususnya dalam konsolidasi perbaikan politik pemerintahan yang demokratis. Terbukti dengan berjalan lancarnya proses pemilihan umum yang sudah dilaksanakan hingga tiga kali sejak reformasi terjadi.

    Berbicara mengenai undang-undang yang mengatur segala sektor kehidupan takkan terlepas dari fungsi legislasi yang diemban oleh Dewan Perwakilan Rakyat. DPR dengan ketiga fungsi yang dimilikinya, yaitu fungsi legislasi, fungsi anggaran, dan fungsi pengawasan menjadi salah satu lembaga negara yang secara independen berkuasa untuk bergerak dalam pemerintahan. Namun, tetap tidak mengindahkan prinsip check and balance diantara 2 lembaga berkuasa lainnya, eksekutif dan yudikatif.

    DPR sebagai lembaga yang bergerak atas dasar representasi rakyat sepatutnya menjadi tumpuan utama dalam pengembangan demokrasi di Indonesia. Mengapa? Sejak terpilihnya anggota DPR di pemilihan umum melalui daerah pemilihan (dapil) yang telah ditentukan menjadi bukti bahwa rakyat Indonesia telah menyadari esensi dari demokrasi itu sendiri. Rakyat Indonesia telah sadar dan melek akan politik dengan segala intrik-intriknya. Oleh karenanya sangat diperlukan sistem yang mengatur segala hak dan wewenang anggota DPR untuk mengoptimalkan fungsi pelaksanaan lembaga representasi rakyat tersebut.

    Konstitusi UUD 1945 yang telah dilakukan amandemen sebanyak empat kali menjadi kekuatan utama bagi DPR dan seluruh anggota didalamnya untuk melaksanakan kebijakan-kebijakan politik terkait pembuatan undang-undang, pembahasan dan pengesahan anggaran negara, serta pengawasan terhadap pelaksanaan undang-undang dan penggunaan anggaran yang sesuai dengan aturan hukum yang ada. Serta tidak menyeleweng sama sekali dari undang-undang yang berlaku. Dari ketiga fungsi yang dimiliki oleh DPR, tentunya akan sangat bijak jika pembahasan tidak terlalu meluas. Agar nantinya ditemukan maksud dari inti pembicaraan yang sedang dilakukan.

    Sumber daya manusia yang dimiliki Indonesia tentunya sangatlah beragam. Dari keterlibatan agama hingga intrik-intrik politik yang mencerminkan pergerakan masing-masing individu. Hal ini takkan pernah bisa dinafikan karena pada dasarnya pelaksanaan demokrasi di setiap negara pastilah melalui manuver-manuver politik yang jika publik mengetahui secara luas maka perkembangan demokrasi di negara tersebut akan cenderung tidak meningkat. Sehingga muncul pernyataan bahwasanya setiap individu ataupun lembaga yang  bergerak didalam  roda pemerintahan berhak melakukan kebijakan politik yang sifatnya terbuka maupun tertutup dengan tetap memperhatikan prosedur hukum yang berlaku.

    Beranjak dari pernyataan diatas, sudah sepatutnya wakil-wakil rakyat didalam keanggotaan DPR memperjuangkan sebaik mungkin kepentigan  rakyat Indonesia secara luas dengan kesanggupan dan wewenang yang dimiliki oleh masing-masing individu. Karena jika kembali menelisik asal usul keterpilihan anggota DPR, maka akan terbesit didalam benak setiap orang bahwa mereka mengemban amanah besar untuk melaksanakan perubahan nyata bagi kepentingan rakyat. Ini adalah sebagai wujud pelaksanaan demokrasi yang dituntut setiap warga negara dengan hak suara yang mereka gunakan.

    Dalam melaksanakan dan mengoptimalkan ketiga fungsi yang dimiliki oleh DPR, maka terdapat undang-undang yang mengatur strukturalisasi dalam internal DPR. Selanjutnya disebut sebagai alat kelengkapan yang harus dimiliki oleh DPR. Salah satu alat kelengkapan tersebut adalah komisi.

    Komisi dibentuk oleh DPR dan merupakan alat kelengkapan DPR yang bersifat tetap. DPR menetapkan jumlah komisi pada permulaan masa keanggotaan DPR dan permulaan tahun sidang. Jumlah anggota komisi ditetapkan dalam rapat paripurna menurut perimbangan dan pemerataan jumlah anggota tiap-tiap fraksi pada permulaan masa keanggotaan DPR dan pada permulaan tahun sidang. Komisi adalah unit kerja utama di dalam DPR. Hampir seluruh aktivitas yang berkaitan dengan fungsi-fungsi DPR, substansinya dikerjakan di dalam komisi. Setiap anggota DPR (kecuali pimpinan) harus menjadi anggota salah satu komisi. Pada umumnya, pengisian keanggotan komisi terkait erat dengan latar belakang keilmuan atau penguasaan anggota terhadap masalah dan substansi pokok yang digeluti oleh komisi. Tugas komisi dalam pembentukan undang-undang adalah mengadakan persiapan, penyusunan, pembahasan, dan penyempurnaan rancangan undang-undang. Pada periode 2009-2014, DPR mempunyai 11 komisi dengan ruang lingkup tugas yang beragam. Kesebelas komisi tersebut bergerak sesuai bidang yang digelutinya*.

    Dari statement diatas dapat disimpulkan bahwasanya komisi merupakan unsur penting sebagai alat pelengkap yang dimiliki oleh DPR. Anggota-anggota tiap komisi berasal dari fraksi yang berbeda-beda dengan adanya perimbangan dan pemerataan dari jumlah anggota tiap-tiap fraksi dan setiap pengisian tempat keanggotaan didasarkan latar belakang keilmuan seseorang atau penguasaan terhadap sesuatu terkait substansi yang ada didalam komisi tertentu.

    Hal ini menunjukkan bahwasanya sudah ada perbedaan mendasar dari segi keanggotaan tiap-tiap komisi yanga ada di DPR. Untuk itu jika dikaitkan dengan masyarakat Indonesia yang sangat beragam dan mulai mewujudkan civil society yang kuat didalamnya, maka akan menimbulkan banyak sekali perbedaan pandangan maupun  pendapat di kalangan anggota setiap komisi yang membahas hal-hal tertentu khususya terkait pembahasan RUU yang diajukan oleh DPR sendiri, maupun diajukan oleh presiden ataupun DPD.

    Terkait permasalahan perbedaan pandangan dan pendapat, ini merupakan suatu keniscayaan yang dimiliki oleh setiap individu bergantung atas dasar latar belakang hidup dan bidang keilmuan yang  digeluti. Karena pada dasarnya setiap individu atau/dan fraksi dalam keanggotaan DPR memiliki kecendurungan masing-masing. Untuk itulah seringkali banyaknya RUU masuk program legislasi nasional, yang seharusnya dapat dibahas, hanya segelintir yang dapat diratifikasi oleh DPR.

    Mantan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Akbar Tanjung mempunyai catatan khusus mengenai kinerja DPR periode 2009-2014. Akbar menilai dua fungsi Dewan, yakni dalam legislasi atau pembentukan undang-undang dan penyusunan anggaran perlu diperbaiki. Dari segi kuantitas, Akbar mengkritik jumlah UU yang dihasilkan masih jauh dari harapan. Di tahun 2012, hanya 12 rancangan undang-undang yang disahkan Dewan dari 64 RUU yang masuk program legislasi nasional tahun 2012. Sebanyak 8 dari 12 UU itu diantaranya merupakan UU kumulatif terbuka. Dari segi kualitas, Akbar menilai seharusnya jangan sampai setiap UU yang disahkan DPR dibawa ke Mahkamah Konstitusi untuk dilakukan Judicial Review*.

    Menanggapi hal ini seyogyanya anggota DPR, tidak memperhatikan kelompok tertentu, dapat memanfaatkan perbedaan pandangan dan pendapat yang terjadi untuk mengoptimalkan dan meningkatkan fungsi legislasi yang dimiliki oleh lembaga perwakilan rakyat tersebut. Untuk apa memanfaatkan perbedaan pandangan dan pendapat tersebut? Tentunya sebagai wujud demokratisasi negara Indonesia ini. Indonesia sepantasnya menjadi central figure dalam hal pelaksanaan demokrasi di Asia Tenggara seperti halnya negara Turki yang telah menjadi central figure di kawasan Timur Tengah.

    Lalu bagaimanakah caranya untuk memanfaatkan perbedaan pandangan dan pendapat yag terjadi? Apakah ada solusi yang tepat untuk mengatasi masalah ini? Jika bersama-sama kembali memperhatikan sepak terjang pergulatan politik di Indonesia pascareformasi tentu tidak pernah terlepas dari benak pikiran setiap rakyat Indonesia bahwa sangat diperlukan upaya perbaikan di segala sektor pemerintahan setelah Bapak Soeharto telah demisioner dari jabatannya sebagai presiden RI. Polemik Mei 1998 menjadi ‘hantu bergentayangan’ dalam benak setiap warga negara Indonesia. Rakyat saat ini tidak menginginkan dampak-dampak negatif terjadi kembali. Tetapi rakyat memerlukan perbaikan yang meluas di segala sektor pemerintahan. Karena pada dasarnya makna reformasi secara bahasa adalah pembentukan kembali apa yang telah dirumuskan sebagai upaya perbaikan..

    Oleh karenanya, dalam upaya peningkatan fungsi legislasi yang diemban oleh DPR, baik secara kuantitas maupun kualitas, diperlukan suatu pemecut untuk melakukan konsolidasi kembali dalam ruang lingkup perbaikan. Pemecutnya adalah menumbuhkan kembali semangat reformasi pada seluruh fraksi maupun anggota DPR yang tergabung didalamnya dengan berlatar belakang politik yang sama. Dengan kembali menumbuhkan semangat reformasi, maka kesebelas komisi yang ada pada DPR periode 2009-2014 dengan ruang lingkup tugas yang beragam dapat berjalan dengan baik dalam melaksanakan tugas-tugasnya. Pembahasan RUU yang selama ini tidak efektif dan efisien dapat ditanggulangi secara solutif dan terintegrasi dari beragamnya pendapat dan pandangan dengan satu niat yang sama, yaitu semangat reformasi.

    Bukankah benar demikian? Lihatlah realitas yang ada. Pada dasarnya semua fraksi yang ada dalam keanggotaan DPR merupakan representasi rakyat untuk melaksanakan tujuan yang sama. Yaitu perbaikan secara meluas di berbagai sektor pemerintahan. Ketika kesembilan fraksi yang ada dalam DPR, baik F-PD, F-PG, F-PDIP, F-PKS, F-PAN, F-PPP, F-PKB, F-Gerindra, dan F-Hanura secara bersama melakukan konsolidasi kembali terkait adanya perbedaan pandangan dan pendapat, maka akan tercipta keharmonisan dalam setiap komisi yang ada di DPR ketika membahas tentang RUU yang telah masuk program legislasi nasional.

    Untuk itu, setiap anggota DPR dari fraksi yang berbeda dipandang perlu menyamakan tujuan dalam fungsi legislasi DPR. Karena tidak akan mungkin menafikan adanya perbedaan pandangan dan pendapat. Yaitu dengan menumbuhkan kembali semangat reformasi dalam jati diri anggota DPR sebagai perwakilan rakyat.

    Akhir kata, ketika semangat reformasi di kalangan anggota DPR dikembalikan ke jalannya yang benar dalam upaya peningkatan fungsi legislasi DPR, niscaya wujud demokratisasi kehidupan bernegara di Indonesia akan terealisasikan dengan baik sesuai dengan kepentingan rakyat. Karena DPR merupakan lembaga representatif bagi rakyat untuk melakukan perbaikan secara luas.

* Ensiklopedi Bebas Wikipedia Bahasa Indonesia, Dewan Perwakilan Rakyat, 
   (Diakses tanggal 14 Oktober 2012)
* Waspada Online, Fungsi DPR Perlu Diperbaiki,   
  diperbaiki&catid=17:politik&Itemid=30
    (Diakses tanggal 14 Oktober 2012)

Eksistensi Pergerakan Dakwah Mahasiswa dalam Perspektif Al Quran*

“Apa pun,siapa pun,kapan pun, dimana pun, bagaimana pun, aku tetap orang yang berpegang teguh terhadap idealisme yang kuyakini. Karena sejatinya seorang realistis hanya dapat bergerak dalam kehidupan dengan idealisme yang ia miliki dan yakini.”

Beranjak dari kalimat diatas, seyogyanya setiap insan di dunia ini dapat memahami dengan baik perihal makna kehidupan hakiki yang diberikan oleh Allah SWT. Lebih jauh lagi mengenai kebermaknaan hidup itu sendiri. Ketika makna ditemukan, maka akan bahagia seseorang menjalani hidupnya. Sesungguhnya Allah SWT telah menegaskan bahwasanya hanya agama Islam sajalah yang pada akhirnya akan diterima oleh-Nya.

“Dan barangsiapa mencari agama selain Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali ‘Imran : 85)

Pascareformasi tahun 1998 terlihat dengan jelas kebebasan organisasi pergerakan dakwah , khususnya pergerakan dakwah mahasiswa yang sampai saat ini masih menunjukkan eksistensinya. Sebut saja Pelajar Islam Indonesia (PII), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Lembaga Dakwah Kampus (LDK), dan masih banyak pergerakan dakwah lain yang tak dapat disebutkan satu per satu. Pergerakan-pergerakan dakwah  tersebut menjadi sebuah pijakan dalam upaya membentuk peradaban baru yang dilandaskan Al Quran dan As-Sunnah. Tak pelak, semua pergerakan dakwah mahasiswa di Indonesia yang telah terbentuk hingga saat ini adalah sebuah kontribusi nyata dalam menunaikan amanah Allah SWT kepada umat-Nya untuk menjadi da’i dalam kondisi apa pun, antum du’aat qobla kulli syai’in. Sebelum segala sesuatu kalian semua adalah para da’i.

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran : 104)

Dan dua ayat ini pun menjadi penegas ayat sebelumnya.

 “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (Ali ‘Imran : 110)

  “Dan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”(Al Baqarah : 143)

 Berbicara mengenai pergerakan kebangkitan Islam, takkan terlepas dari tokoh-tokoh yang menjadi pelopor sekaligus promotor pembaruan pergerakan kebangkitan Islam itu sendiri. Saat ini pergerakan dakwah mahasiswa di Indonesia sedikit banyak cenderung mengadopsi pergerakan Ikhwanul Muslimin yang digagas oleh Imam Asy-Syahid Hasan Al Banna, lebih tepatnya terinspirasi oleh pergerakan beliau. 

Mengambil istilah dari Fazlur Rahman, ia mengemukakan bahwa pergerakan Ikhwanul Muslimin yang digagas oleh Imam Asy-Syahid Hasan Al Banna adalah pergerakan yang lebih menekankan pemikiran Islam secara total sebagai sistem hidup yang mengatur kehidupan bernegara dan bermasyarakat atau biasa disebut kelompok ‘fundamentalisme Islam’. Selanjutnya pada tataran periodesasi pembaruan pergerakan kebangkitan Islam, para fundamentalis ini oleh Fazlur Rahman dimasukkan kedalam pemikiran neorevivalisme. Seiring dengan perjalanan pergerakan kebangkitan Islam, tidak lama sejak bermekarannya pemikiran neorevivalisme, muncul kembali pemikiran baru yang mewarisi pemikiran fundamentalisme sekaligus mengoreksinya. Inilah yang disebut neofundamentalisme Islam. Mereka dapat beradaptasi terhadap kemodernan, tetapi tetap berpegang teguh kepada nilai-nilai Islam yang dianggap universal dan akan senantiasa mampu menjawab tantangan zaman*.

Di kalangan para cendekiawan, pemuda memiliki 3 amanah yang diharapkan menjadi tumpuan mereka dalam bergerak, yaitu social control, iron stock, dan agent of change. Ketiga amanah tersebut menjadi sebuah tumpuan yang tak dapat terelakkan kembali untuk dipertanggungjawabkan kepada para pemuda. Tetapi, kadangkala timbul pertanyaan yang membuat rasa kepenasaran semakin membuncah di antara segelintir orang yang belum memahami, ”Mengapa harus para pemuda?”

“Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) kisah mereka dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk. Dan kami meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri, lalu mereka pun berkata, "Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, Sungguh, kalau saja kami berbuat demikian, tentu kami telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran.” (Al Kahfi : 13-14)

Dalam ‘Majmu’ah Ar-Rasail’ karya Imam Asy-Syahid Hasan Al Banna, beliau mengemukakan setidaknya ada empat karakter yang senantiasa melekat pada diri pemuda. Perwujudan orientasi yang dimiliki pemuda akan terealisasi manakala ada rasa keyakinan yang kuat kepadanya, ikhlas dalam berjuang di jalannya, senantiasa bersemangat dalam merealisasikannya, dan kesiapan untuk beramal serta berkorban dalam mewujudkannya. Karena sesungguhnya dasar keimanan itu adalah nurani yang menyala, dasar keikhlasan adalah hati yang bertakwa, dasar semangat adalah perasaan yang menggelora, dan dasar amal adalah kemauan yang kuat. Itu semua tak lain hanya dimiliki pada diri para pemuda*.

Terjawab sudah pertanyaan yang sedari tadi menjadi persoalan. Itulah pemuda. Mereka identik terhadap perjuangan. Mereka seperti pusaran gelombang yang menggerakkan segala sesuatu. Mereka laksana ombak yang menerpa tembok ketidakadilan. Mereka layaknya pelangi, memberikan secercah harapan yang muncul setelah kegelapan menuju cahaya. Dan mungkin setiap apa yang telah ada di dunia tak terlepas dari peran serta dan kontribusi yang mereka ciptakan.

Begitulah para pemuda. Maka tak salah jika Presiden Soekarno menyatakan bahwa ia akan mengguncang dunia hanya dengan sepuluh pemuda. Karena sosok pemuda adalah kepribadian yang terintegrasi. Fase hidup yang selalu dinanti oleh setiap insan. Karena hampir semua hal yang akan didapat manusia dalam hidup ini terjadi dalam fase keremajaan. Tentu saja fase remaja merupakan indikasi awal yang menjadikan diri seseorang layak disebut sebagai seorang pemuda. Lebih jauh, pribadi seorang remaja yang sudah ditempa menjadikan dirinya patut disebut sebagai seorang pemuda. Kematangan akal dan fisik yang mereka dapatkan takkan ada yang bisa dinafikan oleh sesuatu pun.

Bertolak dari pernyataan yang telah disampaikan sebelumnya, seyogyanya khalayak umum dapat memahami dan menyakini eksistensi para pemuda. Namun, beberapa tahun terakhir opini publik saat ini menimbulkan sedikit keraguan atas jati diri seorang pemuda. Mungkin disebabkan kebebasan pers yang melanda media berdampak sangat luas dalam memetakan persepsi dan pemikiran masyarakat.

Saat ini masyarakat berpandangan bahwa pergerakan dakwah mahasiswa pascareformasi 1998 tidak menunjukkan eksistensinya secara nyata. Masyarakat menganggap pergerakan dakwah mahasiswa tahun-tahun terakhir ini tidak semasif dengan pergerakan dakwah mahasiswa di zaman prareformasi. Inilah yang menjadi permasalahan utama. Opini seperti ini tersebar dalam kehidupan masyarakat secara luas. Ini dapat menimbulkan degradasi motivasi dan bahkan akan lebih mengkhawatirkan ketika terjadi disorientasi dalam pergerakan dakwah mahasiswa.

Padahal jika kembali ditelusuri perihal masalah ini, sebenarnya tidak semua pergerakan dakwah mahasiswa seperti apa yang dianggap oleh masyarakat. Walaupun secara kasat mata terlihat tidak semasif seperti yang terjadi pada  zaman prareformasi, pergerakan dakwah mahasiswa mulai memahami birokrasi manajemen organisasi dengan baik. Dahulu kebanyakan pergerakan dakwah mahasiswa berpusat pada pergerakan massa. Gelombang massa dijadikan tumpuan kekuatan utama. Namun, jarang ada yang memperhatikan persoalan administratif. Maka jadilah pengarsipan surat, dokumentasi kegiatan, hingga masalah AD/ART tidak sesuai yang diharapkan. Padahal seharusnya semua yang berhubungan dengan administratif dapat terselesaikan dengan baik.

Berbeda halnya dengan sekarang. Pergerakan dakwah mahasiswa saat ini dapat dikatakan lebih rapih pengorganisasiannya dibandingkan dengan prareformasi. Lebih tepatnya terkait permasalahan manajemen organisasi, pergerakan dakwah mahasiswa sudah mengaplikasikannya dengan baik di lapangan dan tetap tidak mengindahkan gelombang massa sebagai salah satu kekuatan pergerakan.

“Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaaf : 4)

Untuk itu sudah sepatutnya khalayak umum menyadari hal ini. Jangan pernah sama sekali menghilangkan eksistensi para pemuda. Mereka memiliki jiwa kepribadian dan karakter khas yang tak dimiliki seorang pun melainkan diri mereka sendiri.

Ada sebuah pertanyaan. Mengapa pergerakan dakwah mahasiswa tidak pernah terhapuskan eksistensinya dan selalu memiliki semangat juang tinggi dalam melakukan pergerakan serta selalu aktif dalam berpartisipasi dan berkontribusi bagi perkembangan kehidupan? Karena mereka memegang teguh idealisme yang mereka yakini bersama. Sejatinya tidak seorang pun atau sekelompok orang tertentu yang realistis dapat bergerak dalam kehidupan, melainkan ia atau mereka memiliki idealisme yang dipegang kuat dan diyakini hati dengan penjunjungan tinggi.

Saat ini pergerakan dakwah mahasiswa tengah melakukan konsolidasi yang begitu menyakinkan. Pergerakan dakwah mereka sudah merambah berbagai aspek kehidupan bermasyarakat seperti nilai dan norma sosial, budaya, perilaku, maupun pemikiran. Tak bisa dipungkiri, mahasiswa adalah penggerak dalam upaya revitalisasi kemaslahatan umat dan bangsa.

“Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (Dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (Ali ‘Imran : 79)

Ayat Al Quran di atas menjadi penutup atas pembahasan yang telah berkepanjangan ini. Secara fundamental pergerakan dakwah, khususnya mahasiswa, memiliki hubungan terkait dengan makna tarbiyah. Tak dapat dipungkiri, pergerakan dakwah mahasiswa bermula dari arah pembinaan sepanjang hidup yang jelas untuk membentuk kader-kader dakwah yang mumpuni. Atau biasa disebut Tarbiyah Nukhbawiyah.  

Dakwah dan tarbiyah merupakan dua konsep fundamental yang dimiliki agama Islam. Pergerakan Dakwah Mahasiswa pada dasarnya merupakan pengejawatahan dari pembentukan Rijalud Dakwah atau para aktivis dakwah. Kedepan pergerakan dakwah mahasiswa diharapkan tetap terjaga eksistensinya sebagai washilah atau media dalam pembentukan aktivis-aktivis kader dakwah yang siap menyongsong umat dan negara.

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu dan orang orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Al Anfal : 60)

“Akulah petualang yang mencari kebenaran. Akulah manusia yang mencari makna dan hakikat kemanusiannya di tengah manusia. Akulah patriot yang berjuang menegakkan kehormatan, kebebasan, ketenangan, dan kehidupan yang baik bagi tanah air di bawah naungan Islam yang hanif.

Akulah lelaki bebas yang telah mengetahui rahasia wujudnya, maka ia pun berseru, ‘Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan Semesta Alam yang tiada sekutu bagi-Nya. Kepada yang demikian itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri.’

Inilah aku. Dan kamu, kamu sendiri siapa?”*

* Meraih penghargaan Juara 1 Lomba Esai Festival Imuwan Muslim Nasional 2012 SERUM-G 
   FMIPA Institut Pertanian Bogor (Bogor, 14 Oktober 2012),
* Hilmy Bakar Al Mascaty, Pembaruan Islam Pasca Reformasi di Indonesia, 
   Diunduh tanggal 17 September 2012
* Hasan Al Banna, Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, (Solo : PT Era    Adicitra  Intermedia, 
   2010), hlm. 128.
* Ibid, hlm. 25.

Mereka yang Memiliki Semangat Kegigihan

Nasionalisme merupakan pembahasan klasik yang sampai saat ini masih diperbincangkan. Khususnya di kalangan remaja pada zaman yang terbawa arus globalisasi pop culture. Tak perlu diperdalam untuk dibahas lebih lanjut. Karena secara kasat mata sudah terlihat dengan jelas koridor perjalanan hidup remaja saat ini sudah berbelok menyimpang. Untuk itu diperlukan konsolidasi ulang dalam upaya perbaikan koridor perjalanan hidup para remaja. Lebih menjurus kepada mereka yang pada dasar hatinya masih menyimpan semangat kegigihan yang selalu menyala.

Siapakah remaja yang di dasar hatinya masih menyimpan semangat kegigihan tersebut? Tentunya merekalah para remaja yang selalu ditempa dalam proses pedewasaan. Dalam hal ini mereka para remaja yang sudah pantas disebut sebagai seorang pemuda. Maka tak ada salahnya jika mengaitkan wujud nasionalisme para pemuda di era reformasi ini.

Sudah tampak di depan mata kerusakan yang menimpa  para remaja Indonesia. Terakhir adalah kasus tawuran yang terjadi di perempatan bulungan yang menewaskan salah seorang siswa kelas X. Ini merupakan duka bagi seluruh warga negara Indonesia. Bagaimana tidak? Mereka para remaja adalah cikal bakal pemuda-pemuda yang akan lahir untuk memperbaiki bangsa. Jika di saat remaja saja sudah melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan nilai dan norma yang ada di masyarakat, bagaimana bisa seorang remaja seperti itu dapat bertransformasi menjadi seorang pemuda? Karena pada dasarnya seorang pemuda itu terlahir dari proses panjang yang terus berkesinambungan. Dari sejak ia dilahirkan ke dunia ini hingga ia ditempa agar menjadi remaja yang pada dasar hatinya memiliki semangat kegigihan yang menyala. Maka sangat dimaklumkan masyarkat resah akan hal ini. Generasi penerus mereka rusak. Ketika para remaja rusak, maka takkan ada harapan untuk bangkit menjadi bangsa yang maju.

Namun sebagai seorang yang peduli, seyogyanya hal seperti ini tak perlu ditangisi lebih jauh. Konsolidasi adalah hal yang sangat diperlukan untuk menyelesaikan masalah. Jika hanya berdiam diri dan tidak turut serta berkontribusi dalam upaya perbaikan, maka sebenarnya yang salah bukanlah mereka para remaja yang sudah keluar dari koridor mereka. Tapi, orang yang hanya bisa menyerocos saja perkataannya yang perlu disalahkan. Karena kependekan akal tanpa rasionalitas ia mengeluarkan kata-kata.

Beranjak dari hal diatas, sudah sepatutnya para pemuda berperan dalam membangun bangsa ini dengan wujud nasionalisme yang nyata. Teringat dengan peristiwa Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, ini menjadi cambuk bagi para pemuda. Baik hati maupun akal. Mengapa? Karena peristiwa itu menjadi indikasi bahwa para pemuda pada zaman itu sudah turut berperan dalam pergerakan nasional. Dan itu menunjukkan bahwa mereka merealisasikan wujud nasionalisme dengan nyata. Lalu, bagaimana dengan para pemuda saat ini?
Di kalangan para cendekiawan, ada 3 peran yang seharusnya diemban oleh setiap pemuda diatas pundaknya. Diharapkan ketiga peran tersebut dapat dijadikan amanah dalam perwujudan nasionalisme. Apakah ketiga amanah tersebut? Tak lain adalah amanah yang dipikulkan sebagai social control, iron stock, dan agent of change. Ketiga peran tersebut menjadi tolak ukur dalam perbandingan kontribusi para pemuda dari masa ke masa.

Social control dapat didefinisikan sebagi agen yang mengawasi dan mengontrol realitas sosial. Sebagai wujud nasionalisme sudah sepatutnya para pemuda dapat berperan dalam ruang lingkup ini. Bagaimana caranya? Tentu dimulai dari hal-hal kecil saja itu sudah cukup memberikan indikasi kebangggan. Seperti halnya mempengaruhi diri untuk terus dalam koridor kebaikan dan berpihak kepada kebenaran. Karena dengannya seorang pemuda dapat menjadi moderat dan menjunjung tinggi toleransi di tengah masyarakat. Dengan tidak mengindahkan untuk berpihak kepada kebenaran. Maka peran social control ini nantinya akan menciptakan masyakarat yang diidamkan, yaitu masyarakat madani.

Iron stock dapat dipahami dari sudut pandang pengisian ruang pergerakan yang tersedia. Apa maksudnya? Disini dimaknai bahwasanya para pemuda memiliki peran pengganti dan pengisi ruang-ruang pergerakan yang telah dikosongkan oleh generasi tua. Para pemuda menjadi tumpuan utama dalam mengisi berbagai lini kehidupan yang ada dalam realitas masyarakat. Dengan begitu kompleksitas kehidupan dapat terus berjalan dengan baik dan saling berkesinambungan.

Agent of change bermakna bahwa para pemuda memiliki peran pengubah. Mereka sepatutnya berani dalam mengemukakan ide-ide cemerlang yang mereka ciptakan. Dengan perubahan menuju ke arah yang lebih baik maka semua tetek bengek sulitnya perwujudan reformasi akan berjalan dengan mulus. Bukankah semangat nasionalisme dalam hal ini dapat dijadikan pemacu dalam mewujudkan reformasi secara menyeluruh?

Ucapan terakhir diberikan kepada mereka para pemuda,

“Hai para pemuda! Jika negara ini hancur. Maka itu tak berarti apa-apa bagimu. Karena keberadaan kalian semua kehancuran dapat diputar-balikkan menjadi peradaban yang menghegemoni dunia!”


Jumat, 20 April 2012

Sudahkah Engkau Ikhlas Bekerja, Anakku?


Wushhh......

KRL Ekonomi berlalu melewati. Kibaran rambutnya yang lebat masih terlihat. Lembayung senja mulai menyembunyikan diri diatas cakrawala. Pertanda waktu maghrib akan terlewati sebentar lagi. Burung-burung pun sudah sejak sore tadi kembali ke sarangnya. Banyak orang berlalu lalang pulang dari kewajiban mereka berusaha bekerja. Merealisasikan salah satu  ajaran Islam yang universal. Agar memiliki kesadaran untuk memiliki sikap iffah pada diri setiap insan.

Ia dan ayah masih berdiri menunggu. Kereta tadi bukan yang mereka akan naiki untuk pulang. Tujuan mereka adalah kota hujan berjuta angkot. Ini pengalaman pertamanya menemani ayah yang selama ini mendidiknya dengan baik bekerja. Tidak seperti biasa, mereka pulang dengan kereta. Padahal dari cerita yang biasa ia dengar, ayah sering pulang menaiki bis.Tapi, ia tak memedulikannya karena akan mendapatkan kelelahan dalam berpikir. Peluh dan keringat sudah sejak tadi keluar turun menyusuri setiap kulit mereka.

Pernah ia berpikir dalam benaknya, “aku sangat tergugah mengamati kehidupan ayah. Setiap hari pulang pergi mencari penghasilan untuk menghidupi keluarga. Aku memiliki banyak adik yang masih membutuhkan biaya untuk bersekolah. Ia terlihat sangat lelah setiap pulang dari bekerja. Keletihan selalu disembunyikan ketika menghadapi anak-anaknya. Padahal aku dapat melihat dari raut wajahnya yang sangat kelelahan setiap pulang kerja. Satu hal yang kusukai dari cara ia mendidik anak-anaknya. Ayah suka bercerita tentang kehidupan masa kecilnya. Kadangkala juga menceritakan pengalaman yang baru ia dapatkan. Ia selalu berharap anak-anaknya dapat memiliki kehidupan yang lebih baik darinya. Secara tidak langsung dalam alam bawah sadarku muncul sebuah energi jiwa untuk menjadi yang terbaik dari yang lain. Itulah salah satu alasan mengapa aku sangat menginginkan menjadi orang yang diharapkan kedatangannya untuk merubah dunia jauh lebih baik pada saatnya nanti.”

Ia melihat ayah masih berdiri tegak berjiwa tegar. Sesekali terlihat singgungan senyum di bibir ketika ia menatap wajah ayah. Dulu ia tidak mengetahui tentang apa arti dari tanggung jawab seorang ayah dalam bekeluarga. Kini, ia sudah memahaminya. Sudah menjadi sunnatullah bahwasanya manusia tidak akan memperoleh nikmat, rezeki, dan makanan yang ada diatas dan dibawah tanah kecuali dengan kerja keras dan usaha yang sungguh-sungguh. Dari sanalah ia pun menjadi mengerti, mengapa seorang ayah berjuang keras menghidupi keluarga. Ia memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dirinya maupun keluarga. Bukankah sudah diketahui akan hal ini?

كفى بالمرء إثما أن يضيّع من يقوت.رواه أبو داود
“Cukuplah seseorang dikatakan berdosa jika ia menelentarakan orang yang menjadi tanggungannya.”H.R Abu Daud

Tanpa sadar mereka sudah berdiri lebih dari seperempat jam. Kereta yang ditunggu-tunggu ternyata terlambat dari apa yang dikira. Ia dan ayah masih kuat membawa tas dipunggung. Dari arah utara tiba-tiba terdengar suara kereta bergerak melambat. KRL Ekonomi AC yang sejak tadi ditunggu telah datang. Suara decitan rem sedikit menggangu pendengaran beberapa saat. Dengan agak terburu-buru mereka memasuki kereta dengan segera. Takut tak mendapatkan tempat duduk kosong untuk menunggu kereta sampai tujuan. Setelah susah payah berjuang saling mendahului, akhirnya mereka mendapatkan tempat duduk walau sempat bersikukuh dengan seorang penumpang.

Sssshhhh...............

Pintu otomatis di setiap sisi berhadapan mulai menutup. KRL Ekonomi AC yang mereka naiki mulai berjalan meninggalkan stasiun Jakarta Kota. Tujuan mereka adalah tempat pemberhentian stasiun terakhir di Pasar Anyar. Beruntung sekali mereka mendapatkan gerbong yang tak begitu sesak. Dengan keadaan seperti itu bercengkerama bukanlah hal riskan dihadapan penumpang lain. Tapi tetap dengan catatan tidak mengganggu suasana tentunya.

Sepanjang perjalanan mereka berdua menitikberatkan barang yang dibawa. Penjagaan perlu diperketat agar tak lepas dari pegangan. Ayah selalu memperingatkannya bahwa hidup ini selalu berada dalam koridor perjuangan. Ia tahu akan hal itu. Setiap insan lahir ke dunia ini berawal dari perjuangan dengan jutaan kromosom dari spermatozoid seorang ayah. Dan ketika ada satu spermatozoid berhasil menembus ovum dengan akrosom yang dimilikinya melalui proses pembentukan apparatus golgi, saat itulah 2 kromosom haploid dari ayah dan ibu melebur menjadi sebuah zigot diploid yang pada akhirnya akan berkembang menjadi janin di dinding endometrium ibu. Hingga Allah mengisi raga janin itu dengan ruh jiwa di saat kandungan berumur 4 bulan. Itulah masa perjuangan setiap insan sampai pada saat ditentukan akan lahir ke dunia menyongsong koridor perjuangan baru.

Tiba-tiba bahu kanan dirinya ditepuk telapak tangan ayah. Dengan wajah tetap cerah dan singgungan senyum yang khas ia berkata, “nak, ayo kita membaca wirid petang hari. Masih ada waktu sampai adzan Isya berkumandang. Tadi kita belum sempat membacanya. Ada sekitar satu setengah jam lagi hingga kita sampai tujuan.”

Itu benar. Ia dan ayah belum sempat melakukan aktivitas yang biasa dilakukan pagi dan petang. Dengan senyuman pun ia mengikuti ayah membaca wirid harian tersebut. Dengan syahdu suara mereka dengan lembut tanpa sadar menyentuh hati setiap penumpang yang ada di gerbong tersebut. Hingga sekitar dua puluh menit kemudian mereka akhirnya selesai dari wirid mereka. Langit dan bumi beserta isinya mengaminkan apa yang dipanjatkan dari wirid tersebut. Adzan Isya pun berkumandang memanggil setiap muslim untuk menunaikan kewajibannya.

“Ayah, adzan Isya sudah berkumandang. Alhamdulillah tadi kita sudah berinisiatif untuk menjamak taqdim isya dengan maghrib di masjid depan stasiun tadi. Oya, sekarang keretanya sudah masuk daerah mana, yah?” Dengan sopan dan dijaga ia bertanya kepada ayah. Beliau hanya melihat wajahnya dengan lekat. Wajahnya cerah tak terlihat sedetik waktu pun kecapekan yang ayah tampakkan kepadanya.

“Anakku, alhamdulillah kita sudah melewati stasiun Pondok Cina. Mungkin sekitar beberapa stasiun lagi kita sampai di Bogor Kota. Ayah mengingat satu hal. Ini dipicu oleh pernyataanmu tadi. Maukah engkau mendengar cerita ayah kembali? Ini tentang salah satu kisah tentang keikhlasan yang ayah alami. Kisah ini terjadi sekitar sepekan yang lalu di masjid yang sama kita singgahi tadi. Jadi, maukah engkau mendengarnya, anakku?”

Wajah ayah yang teduh. Dengan anggukan kecil ia menerima permintaan ayah untuk mendengar dengan baik apa yang akan disampaikan kepadanya. Mereka memperbaiki posisi duduk agar nyaman bercengkerama. Tas di punggung dipindah ke pangkuan mereka. Keadaan gerbong kereta masih terasa sunyi hingga ayah mulai bercerita dengan deheman khasnya dan membaca bismillah.

“Anakku, tentunya engkau masih mengingat tentang sifat iffah. Yaitu menjaga harga diri dan kehormatan. Kisah yang akan ayah ceritakan berhubungan dengan kerja. Banyak hadits yang menyebutkan akan hal ini. Tahukah engkau salah satu dari hadits tersebut?” Pikirannya melayang mengingat kembali hadits-hadits yang ia tahu mengenai hal tersebut. Dengan satu hentakan kaki dan kepalan tangan ia mengingatnya. Dengan kepercayaan diri ia menyebutkan hadits yang ia ketahui.

لأن يحتزم أحدكم حزمة من حطب فيحملها على ظهره فيبيعها خير له من أن يسأل رجلا فيعطيه أو يمنعه. متفق عليه بلفظ مسلم
“Apabila salah seorang diantara kamu mencari kayu bakar dan mengikatnya lalu memikulnya kemudian menjualnya, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik memberinya ataupun tidak.” H.R. Bukhari, Muslim

اليد العليا خير من اليد السفلى و العليا هي المنفقة و السفلى هي السائلة. متفق عليه
“Tangan diatas lebih baik daripada tangan dibawah, diatas adalah yang memberi, sedangkan dibawah yang meminta-minta.” H.R Bukhari, Muslim

“Tepat sekali, anakku. Islam mengajarkan kita untuk menjaga harga diri dan kehormatan. Begitupun juga Islam tidak menganggap keengganan bekerja dan berusaha dengan mengharap rezeki dari arah yang tak diduga-duga termasuk tawakkal, sebagaimana dipahami sebagian orang awam yang tidak berilmu seperti yang dikatakan Imam Ahmad. Sebaliknya, Islam menganggap sikap itu sebagai tawakkul (bergantung).”

“Bergantung dan enggan berusaha merupakan mentalitas yang tidak dikehendaki Islam. Ini merupakan tuntutan agar kita ummat Islam tidak terjerumus kedalam jurang kehinaan. Kita sebagai ummat pilihan yang diamanahi untuk memimpin harus bisa menyeleraskan antara kemuliaan Islam dan kepribadian moral kita. Dalam hal ini juga mempengaruhi bahwasanya eksistensi Islam bergantumg terhadap ummatnya. Bagaimana jadinya jika kita menjadi orang yang hanya bisa meminta-minta? Bukankah itu sebuah kehinaan bagi diri dan agama Islam, wahai anakku?”

Dengan bijak ayah memberikan wejangan kepadanya. Tapi ini belum selesai. Baru pembukaan yang baru ia dengar.

“Begitulah, anakku. Ayah tahu engkau pasti bisa memahaminya. Islam mengajarkan kita untuk tidak enggan berusaha. Jika kita menginginkan sesuatu, maka kita harus berusaha mendapatkannya. Gabungkanlah antara keinginanmu dan kehendak Allah SWT. Jika engkau benar-benar berusaha mencapai apa yang kau inginkan, maka Allah pun pasti akan memberikannya dengan qadar-Nya yang baik. Tentunya tetap dalam kebaikan dan kemaslahatan dirimu dan masyarakat luas.”

Ayah kembali memperbaiki posisi duduknya. Gelagat ayah terlihat ingin mulai menceritakan kisahnya. Ia tahu wejangan awal tadi sebagai pemahaman awal untuk dapat menghayati cerita yang akan disampaikan ayah kepadanya. Dan sekarang cerita akan segera dimulai.

“Pekan lalu merupakan salah satu pengalaman yang tak bisa dilupakan bagi ayah. Ini merupakan kisah tentang bagaimana keikhlasan yang sepatutnya kita tunjukan pada kepribadian kita. Tahukah engkau, anakku? Sejak saat itu ayah berusaha untuk selalu menjadi hamba yang selalu ikhlas hanya mengharapkan ridho Allah Ta’ala. Awal kisah ini dimulai saat ayah pulang sore dari kantor tempat ayah bekerja.”

Ayah dalam keadaan letih sekali. Tidak biasanya tubuh terasa lemah. Hampir saja ayah jatuh ketika berjalan menuruni tangga. Alhamdulillah saat itu ada teman yang menahan ayah agar tidak jatuh.Dalam keadaan seperti itu ayah memutuskan untuk tidak pulang menaiki bis seperti biasa. Ayah keluar dari gerbang kantor saat langit sudah menampakkan lembayung senjanya. Melihat waktu sudah mulai gelap dan adzan maghrib pun sudah mulai berkumandang, ayah memutuskan untuk sholat maghrib dahulu di masjid depan stasiun dan jam tujuh lebih nanti pulang menaiki kereta.

Ayah menitipkan sepatu dan beranjak untuk mengambil air wudhlu. Dengan kesegaran berwudhlu wajah ayah terlihat sedikit lebih cerah. Segera ayah memasuki masjid agar tidak tertinggal sholat berjama’ah dan menjadi masbuq. Setelah imam salam, ayah berdzikir dan berdo’a kepada Allah meminta diberikan anak-anak dan keturunan yang qurrata ‘ayun. Tak lupa ayah melaksanakan sunnah rawatib ba’da maghrib. Dan ayah pun berkemas untuk pergi meninggalkan masjid untuk pulang.

Pikiran ayah tiba-tiba terlintas terhadap seorang bapak yang tadi sholat disamping ayah. Bukankah bapat tersebut tadi duduk didepan masjid sepanjang sore hingga akhirnya adzan maghrib berkumandang? Ayah ingat bapak itu bekerja sebagai tukang pijat dan urut. Dengan segala pertimbangan antara keberangkatan kereta dan keletihan, ayah mendekati bapak tersebut untuk mendapatkan jasanya.

“Bapak, tolong bisa pijatkan saya? Kebetulan sekali badan saya terasa letih sekali.”

Ayah meminta jasa bapak itu sambil menyerahkan uang sepuluh ribuan. Sebelum memijat tubuh ayah, bapak itu terlihat kurang bersemangat memulai kerjanya. Mungkin karena uang sepuluh ribuan yang ayah berikan.Tapi, tak apa. Ayah tak memedulikannya. Walaupun sebenarnya ayah kurang mendapatkan manfaat dari pijatan bapak tersebut.

Detik-detik berganti menjadi hitungan menit. Sudah sekitar 5 menit ayah dipijat tanpa merasakan manfaatnya sekalipun. Sempat ayah melihat barang-barang bawaan bapak itu. Terlihat minyak urut berjejer tampak diatas sehelai kain. Ayah mengambil salah satu minyak tersebut.

“Bapak, ini minyak yang digunakan untuk memijat?”

“Iya, betul.”

Dengan wajah kurang senang bapak tersebut menjawab pertayaan ayah. Akhirnya sambil bapak itu bekerja, ayah sedikit bercakap-cakap dengan bapak itu.

“Pak, minyak ini sering saya lihat dijual di beberapa tempat. Di toko kelontongan sempat juga saya melihatnya. Apakah minyak ini bagus untuk pijat dan urut?”

“Benar, minyak ini sudah teruji dengan baik. Saya sendiri nyaman bekerja menggunakan minyak tersebut. Kalau yang sekarang saya gunakan ini campuran antara minyak dengan beberapa ramuan alami.”

Dengan baik bapak tersebut menjelaskan khasiat minyak tersebut kepada ayah. Wajah tidak senangnya sedikit berubah dengan pertanyaan dan tanggapan yang baik dari ayah. Tanpa sadar akhirnya percakapan ayah dengan bapak tersebut berlanjut hingga kehidupan bapak itu yang serba tak mencukupi. Ayah mendengarkan dengan khidmat celotehan bapak tersebut hingga akhir. Hingga ayah pun teringat minyak tersebut dapat bermanfaat jika ayah beli untuk digunakan di rumah.

“Pak, minyak ini dijual berapa? Saya tertarik untuk membelinya. Bisa jadi di rumah nanti bermanfaat.”

“Ooh... itu harganya sepuluh ribuan. Murah. Tak bisa ditawar-tawar lagi.”

“Kalau begitu sepuluh ribu yang tadi untuk beli minyak ini saja. Boleh kan, pak?”

“Oya, boleh-boleh. Baiklah, pak.”

Dengan wajah sangat sumringah bapak itu menerima tawaran ayah untuk membeli minyak tersebut dari uang sepuluh ribuan yang pada awalnya untuk membayar jasa pijatan bapak itu. Saat-saat itu menjadi masa yang nyaman sekali bagi ayah ketika dipijat. Setelah uang sepuluh ribuan itu dipakai untuk membeli minyak, bapak itu terlihat senang sekali. Ia merubah cara pandangnya terhadap ayah dan berusaha semaksimal mungkin melakukan kerjanya. Tahukah engkau, anakku? Baru setelah itu ayah merasakan manfaat pijatan dari bapak tersebut. Dari pijatan yang awalnya hanya di kaki, ayah meminta bapak tersebut untuk memijat kepala ayah. Ada kenikmatan tersendiri saat ayah dipijat dengan ketulusan dari bapak itu. Tapi, ada kejadian yang perlu diketahui. Kejadian ini membuat ayah tergugah. Ini mengalir apa adanya. Ayah tak merekayasakannya dari awal.

“Bapak, pijatannya enak sekali. Sudah berapa lama bekerja seperti ini? Sepertinya bapak sudah berpengalaman.”

“Oh, ya. Kira-kira saya sudah bekerja sekitar 2 tahunan. Sebelumnya saya tak memiliki pekerjaan apapun. Kehidupan saya amburadul. Tapi alhamdulillah sekarang saya sudah sadar akan tanggung jawab yang saya pikul.”

“Itu benar, pak. Setiap manusia memiliki tanggung jawab masing-masing yang dipikulkan kepadanya. Alhamdulillah ternyata sudah hampir setengah jam saya dipijat. Terima kasih banyak, pak. Pijatannya enak dan sekarang badan saya terasa lebih segar. Apalagi ditambah dengan hadiah minyak yang bapak berikan. Bahkan uang sepuluh ribu pun bapak berikan kepada saya. Padahal bapak sudah memijat saya dengan hebat. Sekarang minyaknya sudah ada di tangan saya. Uang sepuluh ribuan tadi, mana? Kembalikan lagi kepada saya, pak.”

Setelah mendengar perkataan ayah, wajah bapak itu terlihat melas sekali. Cemberut di bibirnya sama sekali tak nyaman dilihat. Dia sangat bingung kenapa uang sepuluh ribu yang sudah diberikan kepadanya harus dikembalikan?. Bapak itu memegang uang sepuluh ribuan itu sambil memandangnya dengan tatapan berharap. Ia sama sekali tak ingin melepaskannya. Ayah hampir saja tertawa karena saking lucunya kejadian tersebut. Lama sekali bapak itu memandang uang sepuluh ribuan itu, anakku. Ia sama sekali tak ingin melepaskan dengan mudah hasil jerih payahnya. Akhirnya dengan masih penuh keheranan dan kasihan bapak itu menyerahkan uang sepuluh ribuan itu kepada ayah.

“Baiklah, pak. Terima kasih atas segalanya. Bapak sudah memijat saya ditambah dengan hadiah minyak sekaligus memberikan ongkos uang sepuluh ribu kepada saya. Bapak baik sekali.”

Ayah berkata dengan menampakkan senyuman kepada bapak itu seraya memperbaiki posisi duduk. Dengan wajah yang masih melas saja bapak itu menundukkan pandangannya. Ia kebingungan dengan aksi yang ayah lakukan. Ayah hanya bisa tersenyum saja dan tertawa dalam hati. Kenapa bisa ya? Bapak itu melakukan hal yang tak dikira. Jika ada disana, engkau akan melihat kejadiannnya dengan seksama, anakku. Ayah pastikan engkau pun juga akan bingung dengan sikap ayah dan tertawa atas tanggapan yang diberikan bapak tersebut. Tapi ini belum selesai, anakku.

Kemudian, ayah merogoh saku celana mengambil uang lima puluh ribuan dan menggabungkannya dengan uang sepuluh ribuan tadi untuk diberikan kepada bapak itu. Awalnya ia bingung, tapi akhirnya pun bapak itu mengerti akan pelajaran yang ayah berikan kepadanya. Bapak itu menerima uang enam puluh ribu tersebut sambil mengucapkan terima kasih dan menciumi beberapa kali tangan ayah. Ayah berusaha mengelak tapi pengangan bapak tersebut sangat kuat di pergelangan tangan ayah.

“Sudahlah, pak. Jangan berlebihan. Saya mohon lepaskan pegangan tangan bapak dan berhenti menciumi tangan saya. Saya hanya ingin memberikan pelajaran berharga untuk bapak. Jadilah seorang pekerja yang tulus dan ikhlas hanya mengharapkan ridho Allah SWT. Jangan bekerja hanya karena mendapatkan selembar uang sepuluh ribuan. Tapi bekerjalah dengan semaksimal mungkin dengan memberikan semua usaha yang kita miliki. Keridhoan Allah yang seharusnya kita cari. Bukan bekerja mengharapkan pamrih dari orang lain. Dan bekerjalah dengan hati yang berbahagia karena kita menyelesaikan tugas kita dengan baik. Karena dengan keikhlasan saat bekerja, Allah pasti melihatnya dengan memberikan balasan yang setimpal kepada kita.Bapak bisa memahaminya, kan?”

“Iya, saya bisa memahaminya. Terima kasih atas nasihatnya. Insya Allah saya akan melakukan semua nasihat yang bapak berikan untuk kedepannya. Sekarang saya mengerti. Bekerja itu harus mengharapkan ridho Allah. Walaupun manusia ridho, tapi belum tentu Allah ridho atas usaha dan kerja kita.”

“Benar, pak. Kita sebagai seorang muslim sudah sepantasnya menjadikan ridho Allah sebagai tujuan utama kita. Tentang keridhoan manusia terhadap diri kita, itu menjadi hal lain yang sepatutnya kita renungi. Setiap manusia di dunia ini memiliki cara pandang yang berbeda. Tergantung dari banyaknya ilmu yang ia miliki. Bisa jadi ada seseorang yang tidak menyukai sikap dan kepribadian kita. Tapi Allah menyukainya dan memuliakan kita dibanding orang lain dengan meninggikan derajat kemulian di sisi-Nya.”

Tanpa sadar air mata mulai mengucur deras di pelupuk mata bapak tersebut. Ayah merasa terharu dengan pernyataan bapak itu. Dari kejadian ini ayah berharap bisa menjadi seorang yang ikhlas dalam segala sesuatu. Khususnya ketika bekerja mempertanggung jawabkan keluarga.

“Bapak, bekerjalah dengan sebaik mungkin. Curahkanlah seluruh upaya untuk memaksimalkan kerja kita. Sungguh Allah pasti melihat apa yang kita lakukan. Allah pasti akan memberikan balasan atas segala usaha kita untuk mendapatkan kebaikan bagi diri dan keluarga. Ingatlah! Di setiap kesusahan itu pasti ada kemudahan. Allah selalu menguji kita apakah kita sudah benar-benar menjadi hamba yang beriman serta ikhlas? Allah selalu berada didekat hamba-Nya.”

“Dan yang terakhir, pak. Setiap amal yang kita kerjakan akan diterima di sisi Allah jika kita sudah memiliki dua hal; yaitu keikhlasan dan lurusnya niat serta bekerja secara ihsan berdasarkan perintah Nabi Muhammad saw. Kebenaran batin dalam bekerja akan tercapai jika kita memiliki keikhlasan dan kelurusan niat. Sedangkan kebenaran lahir dalam bekerja akan tercapai jika kita ihsan dalam melakukan sesuatu sesuai ajaran Rasulullah saw. Itu semua terangkum dalam firman Allah SWT."

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُور.لقمان آية  22
“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan maka sesungguhnya ia telah berpegang pada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah kesudahan segala urusan.” Luqman ayat 22.

Pada akhirnya ayah dan bapak itu saling merangkul berpelukan. Air mata bapak itu belum berhenti sejak tadi. Ia terharu dengan sikap dan nasihat yang telah ayah berikan kepadanya. Dalam hati ayah berjanji untuk bisa meluangkan waktu agar dapat berinteraksi dengan orang-orang seperti bapak itu di kemudian hari.

Masih banyak orang awam yang tidak memiliki kecukupan ilmu akan pemahaman mereka tentang Islam secara menyeluruh. Tugas kitalah yang telah mendapatkan pemahaman tersebut untuk menyampaikannya kepada orang lain. Jadilah seorang muslim yang sadar akan eksistensi panji Islam yang kita bawa. Jangan hanya menjadi muslim yang biasa-biasa saja. Kita hidup mengemban tugas menyampaikan Islam kepada ummat manusia. Itulah salah satu konsekuensi karena kita dilahirkan di dunia ini dalam keadaan muslim. Bersyukurlah karena engkau dapat mengecap manisnya pendidikan Islam sejak dini, anakku. Selanjutnya adalah tugas engkau menyampaikan segala hal yang telah engkau dapatkan kepada orang lain khususnya teman-temanmu, tentang pemahaman Islam yang kaffah di kemudian hari nanti. Ayah selalu mendo’akan untuk kebaikanmu.

Sepertinya ayah hampir bercerita setengah jam. Kereta sekarang telah melewati stasiun Cilebut. Hanya tinggal menunggu beberapa saat sampai kereta sampai dan berhenti di stasiun terakhir Bogor Kota, Pasar Anyar. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lebih. Kereta sampai tepat waktu dari jadwal walaupun keberangkatan tadi agak telat. Ia tersenyum menuruni kereta dibelakang ayah. Ia bahagia setelah mendengar cerita yang membuat ia jauh lebih memahami hakikat hidup ini.

Begitulah. Ia mendapatkan pemahaman yang baik dari cerita yang ayah sampaikan kepadanya. Ia mengerti bahwasanya setiap keinginan akan kebutuhan hidup dapat tercapai dengan berusaha tidak enggan untuk bekerja. Seperti yang dikatakan Rasulullah saw. Bahwasanya ”Allah telah menjadikan rezekiku dibawah naungan tombakku”. Karena dengan bekerja sama saja kita telah menjaga kehormatan kita untuk tidak meminta-minta. Sikap iffah harus selalu dijaga dalam kepribadian diri. Allah pun telah menjanjikan bahwasanya bumi ini telah dimudahkan bagi kita.

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ.الملك آية 15
“Dialah (Allah) yang telah menjadikan bumi itu mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekinya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” Al-Mulk ayat 15.

Tidak hanya itu, ia juga dapat memantapkan slogan abadi setiap muslim tentang keikhlasan. Bahwasanya Allah adalah tujuan utama hidup. Seyogyanya ia bisa mengorientasikan perkataan, perbuatan dan perjuangannya hanya kepada Allah SWT; mengharapkan keridhoan-Nya dan memperoleh pahala-Nya. Bukan hanya sekedar mendapatkan keuntungan duniawi seperti materi, prestise, pangkat, gelar, kemajuan atau kemunduran. Dengan itulah ia menjadi tentara muslim sejati dengan landasan aqidah yang kuat. Bukan tentara kepentingan dan hanya mencari manfaat dunia. Dunia dan segala isinya sebenarnya adalah hadiah bagi seorang muslim jika dapat selalu istiqomah diatas jalan yang benar. Yang diharapkan adalah seorang muslim itu selayaknya dapat menggenggam dunia dan isinya, bukan dunia yang menggenggamnya dengan cengkeraman syahwat. Akhirnya hanya keridhoan Allah yang sepantasnya kita cari di sepanjang perjalanan hidup kita.


فليتك تحلو و الحياة مريرة
 و ليتك ترضى و الأنام غضاب
 و ليت الذي بيني و بينك عامر
 و بيني و بين العالمين خراب
 إذا صحّ منك الودّ فالكلّ هيّن
 و كلّ الذي فوق التراب تراب 

Dengan-Mu ada kelezatan, meski hidup terasa pahit
 Kuharapkan ridho-Mu, meski seluruh manusia marah
Kuharapkan hubunganku dengan-Mu tetap harmonis
Meski hubunganku dengan seluruh alam berantakan
Bila cinta-Mu kudapatkan, semua terasa ringan
Sebab, semua yang ada diatas tanah adalah tanah belaka

Untuk seluruh ayah di dunia. Kami selalu menunggu kedatanganmu. Mendengar cerita-cerita yang kau berikan. Luangkanlah waktu untuk kami. Kami tahu engkau sibuk bekerja untuk mendapatkan penghasilan menghidupi keluarga. Tetap kami berharap agar engkau berusaha untuk selalu berada di dekat kami. Kami sangat bahagia ketika engkau bercerita tentang masa kecilmu, atau mungkin pengalaman-pengalaman yang baru kau dapatkan. Ayah, kami selalu menunggu kedatanganmu.

Ayah adalah orang terbaik seluruh dunia. Ia memberikan kami pemahaman untuk bisa hidup. Tak hanya sekedar mendapatkan manfaat dunia. Tapi mengajarkan kepada kami untuk bisa menikmati hidup dengan bahagia. Sejatinya hanyalah kebahagian yang selalu dicari setiap insan di dunia.

Ayah. Tahukah engkau? Ada pepatah mengatakan bahwasanya jika ingin melihat kepribadian seseorang lihatlah ayahnya. Kami tahu engkau pasti mengatahui itu. Kesuksesan seseorang bukanlah dilihat dari pencapaian hidupnya. Tapi dilihat dari bagaimana ia bisa mendidik anaknya sebaik mungkin. Agar anak-anaknya bisa menikmati sekaligus menggenggam dunia lebih baik darinya. Jika pada saatnya nanti anaknya lebih baik, berarti saat itulah ia pantas disebut sebagai orang yang sukses. Untuk membangun generasi masa depan yang membanggakan.

Ayah adalah orang yang selalu tegar menghadapi hidup. Ia mengorbankan segala sesuatu agar anak-anaknya bisa bahagia. Dia tidak berbohong atas hakikat yang sebenarnya. Sesungguhnya segala yang dia katakan dan perbuat hanya menginnginkan untuk kebutuhan anak-anaknya. Janganlah pernah berprasangka terhadap perlakuan ayah terhadap kita.

Ayah. Kami disini tetap menunggumu. Diatas bumi Allah yang tiada artinya melainkan untuk kemaslahatan ummat manusia. Walau kami harus menunggu hingga batas waktu, kami kan selalu menantimu. Agar bisa mendengar cerita-ceritamu yang membuat kami selalu senang, tersenyum dan bahkan membuat kami kami tertawa lepas. Berikanlah kami pemahaman untuk mendapatkan kehidupan yang berbahagia. Seperti hikmah yang diberikan kepada anak Luqman melalui perantara ayahnya.

Sungguh, kami selalu menunggu cerita-ceritamu.

Minggu, 26 September 2010

Sayap Cinta yang Tak Pernah Patah


Dingin. Tak kurasakan aliran darah beredar dalam tubuhku. Hatiku sakit menerima akhir dari kenyataan yang sebenarnya. Pikiranku terus melayang mengingat seluruh rangkaian kejadian yang telah kualami. Tak kusangka, akhir dari semua ini membuat hatiku terasa teriris.
  “Ya Allah, kenapa semuanya menjadi seperti ini? Berikanlah kepada hamba kekuatan untuk melewati semua ini dengan baik.”
Dengan lirih aku hanya dapat mengadu kepada Allah. Menyampaikan  segala gundah gulana di hatiku. Tapi,aku percaya. Ini adalah jalan terbaik yang telah kutempuh. Allah telah memberikan yang terbaik untukku. Tanpa sadar, kelenjar air mata di kelopak mata mulai merasakan impuls listrik dari rangsangan stimulus dari hatiku yang terdalam. Air mataku mulai mengucur deras menuruni bagian dagu wajahku. Sakit di hati membuat diriku terus terisak duduk sendiri di samping  jendela bus yang kunaiki menuju Bandung.

***

Indah mempesona. Hanya ada dua kata terucap atas apa yang kupandang. Kebun-kebun teh hijau menghampar luas di segala penjuru. Desiran Angin putih menelisik berbagai bentuk kehidupan sepanjang mata memandang. Kesejukannya membuat diri ini merasa tenang ketika menghirupnya. Inilah salah satu bioma dengan segala organisasi kehidupan didalamnya untuk keseimbangan ekosistem yang kokoh. Keseimbangan sempurna yang diciptakan sang Khaliq untuk kebahagian seluruh organisme yang ada. Seperti kebahagian diriku saat ini.

Ini adalah hari bersejarah untukku. Dimana ada kebahagian besar yang aku dapatkan. Dengan segala yang kumiliki dari potensi diri yang terus berkembang dalam impianku. Aku selalu terus berkeinginan mendapatkan yang lebih tinggi. Tidak akan pernah puas atas apa yang Allah berikan dan bersyukur kepadaNya untuk mendapatkan yang lebih baik. Dan aku pun bisa mendapatkan semua itu jika dapat terus berusaha menjadi orang yang ikhlas.

Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepadaku impian yang ingin kuraih. Aku berhasil meraih apa yang kuharapkan. Mahasiswa terbaik Nasional dengan penghargaan dari presiden secara langsung.Berikut dengan pengakuan dari ahli Genetika terkemuka Dunia Dr. Kazuo Murakami terhadap skripsi yang kutulis tentang perkembangan genetika mikrobiologi. Dengan begitu secara langsung aku mendapatkan beasiswa pascasarjana di Harvard University.

Suasana masjid sunyi dengan tenang. Diriku termenung terduduk didepan teras masjid memandangi perkebunan teh yang luas memikirkan berbagai rangkaian jejakku di ITB. Masa 4 tahun kujalani bersama teman-teman dalam ikatan ukhuwah yang kuat.Dengan mereka semua telah kualami berbagai kejadian dan pengalaman yang mengharukan. Salah satunya adalah ceritaku ini yang membuatku mengerti bagaimana cinta bekerja dalam kehidupan manusia.

***

“Hey, jangan melamun!”, hentak Robbani kepadaku sehingga membuat pikiranku buyar. Karena hentakkannya, agar-agar yang kupegang  jatuh  dari atas tanganku. Padahal kami sudah susah payah membuatnya sendiri dari bahan dasar ganggang merah Eucheuma Spinosum.
  “Yah, jadi jatuh itu agarnya”, keluhku.
  “Hahaha…makanya siapa suruh melamun tidak jelas sambil menatap langit seperti itu. Toh yang ada hanya kegelapan malam dengan sinar bulan yang belum sempurna purnama.”
Itu pasti kebiasaan Robbani yang tak bisa dihilangkan.Selalu berkomentar panjang ketika melihat teman bicaranya melakukan sesuatu yang tidak disukainya. Padahal, bisa saja temannya itu melakukannya karena ada sesuatu yang lain. Tapi, tidak seperti biasanya ia menanyakan perihalku tentang hal ini.

  “Yah..jadi makin diam. Ada apa sebenarnya yang membuat antum menjadi seperti sekarang akhir-akhir ini?”, tanya Robbani kepadaku.
Walaupun perangainya seperti itu, dia memiliki hati yang lembut dimana hampir semua warga kampus menyukainya. Dia selalu perhatian melihat seluruh perilaku teman-temannya. Inilah yang dapat menjadikan diriku selalu percaya padanya menceritakan seluruh isi hatiku.

“Akhi, antum pasti masih ingat. Ketika saat kita melakukan riset penelitian tentang penyakit AIDS. Dimana dalam riset itu kita berhasil menguak tentang asal usul virus HIV yang menyebabkan sistem imunitas tubuh menjadi turun drastis sahingga banyak komplikasi penyakit lain yang diderita pasien AIDS.

Dalam hal ini ada sebuah konspirasi kesehatan besar bahwa sebenarnya AIDS bukan berasal dari perbuatan homoseksual yang selama ini diduga kuat berasal dari kera Afrika yang telah mengalami mutasi. AIDS adalah plague yang dibentuk di laboratorium virus dengan mencampur genom sapi ternak dengan virus domba. Dan kita sudah mengetahui dengan jelas bahwa virus HIV ini diproduksi dan dikembangkan untuk disebarluaskan ke masyarakat dunia agar menimbulkan pandemi virus.”

“Ya, dalam studi kasus di New York juga ditemukan bahwa strain virus hepatitis B sama dengan pola pasien pengidap AIDS. Dan kita pun tahu? Ternyata salah satu perusahaan farmasi besar Dunia yang berbasis Internasional juga terlibat menimbulkan pandemi virus dengan ditemukannya vaksin hepatitis yang terkontaminasi oleh virus AIDS.”

Robbani meneruskan pernyataan tentang AIDS itu dengan pemaparan yang menakjubkan. Itulah kenapa kami sering diberikan kesempatan mengisi seminar karena argumentasi hebat dari kami. Dan kau tahu, Robbani pernah sekali mengatakan bahwa dia dan aku adalah dua orang partner sekaligus rival yang takkan pernah berpisah.

“Jadi, kenapa kau seperti orang yang terlihat selalu murung berharap sesuatu yang orang lain tak tahu?”

Aku tersentak kaget mendengar perkataannya. Bagaimana tidak. Robbani mengetahui tentang isi hatiku yang selalu berharap kepada seseorang yang sangat istimewa bagiku. Aku harus menumpahkan isi hatiku ini dengan sebaik-baiknya.


Pikiranku kemudian mulai menerawang tentang sosok perempuan mempesona dan sangat kukagumi. Dia adalah lentera pertama hatiku yang menerangi dengan cinta. Sosok perempuan yang sangat lembut hatinya dengan semangat membara dalam memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi. Dan tahukah kau?
Senyuman pada wajahnya itu benar-benar membuat dirinya menjadi lebih cantik dan bercahaya. Itulah kesanku terhadap dirinya saat melihat dirinya pertama kali.

Pertemuan pertama dengan sosok itu terjadi ketika ia menjadi pembicara saat seminar hasil riset penelitian penyakit AIDS. Sosok perempuan enerjik dengan balutan jilbab putih bersih dengan jubah berwarna biru muda . Aku sangat kagum sekaligus terpesona dengan sosok itu. Seperti melihat bidadari surga yang cantik jelita. Apalagi setelah mendengar dari para ikhwan akhwat lain yang sangat terkesan dengan kepribadian perempuan itu. Aku pun tahu. Sosok itu adalah perempuan yang dalam pandanganku  sempurna sesuai dengan harapanku. Karena itulah aliran deras cinta dalam relung hatiku muncul dari Allah kepada dirinya.

Setelah aku menceritakan segala isi hatiku kepada Robbani dengan polosnya, Robbani hanya tersenyum dengan wajah yang bercahaya. Wajah yang kembali mengingatkan diriku tentang sosok perempuan itu yang memancarkan kebahagian saat dirinya tersenyum.

“Akhi, tahukah kau? Bahwa sebenarnya inilah yang kunantikan sejak bertemu denganmu. Aku memandangmu sebagai ikhwan dengan figur seorang teladan. Seorang ikhwan yang pada dirinya terpancar cahaya kebaikan. Cahaya itu dapat menjadikan orang yang melihatnya kembali teringat kepada Allah. Pelita yang menerangi hati dari kegelapan. Hingga membuat mata air keluhuran mengalir dengan deras ke seluruh jiwa raga menuju ketaqwaan kepada Allah.”

Robbani berkata dengan sangat terbuka sekali. Kujujurannya dalam berkata hingga genggaman tangannya di lenganku yang mencengkeram keras dengan kelembutan membuat diriku merasa terharu. Robbani, kau adalah sahabat terbaikku. Mulutku tak bisa berkata-kata apalagi setelah mendengar pernyataannya itu.

“Akhi, karena itu aku sangat berharap kepada Allah agar kalian dipertemukan dalam ikatan cinta yang kuat. Dua orang insan yang saling mencintai akan menjalani kehidupan bersama dalam keridhoan ilaahi.

Akhi, Tahukah antum bahwa sebenarnya dia juga sangat mencintaimu. Dia selalu menjaga cintanya kepadamu dalam naungan cinta Allah. Dia juga selalu memperhatikanmu untuk menjadi motivasi bagi dirinya agar menjadi lebih baik. Sama persis sepertimu. Kalian mempunyai cara yang sama dalam menjalin cinta kalian masing-masing untuk menjadi lebih baik. Dan tahukah antum bahwa aku adalah adik sepupu dari sosok perempuan yang kau cintai.”

Tiba-tiba saja pelupuk mataku telah terpenuhi oleh air mata. Tetes demi tetes turun dengan derasnya hingga membasahi pipiku. Tanpa sadar tubuhku pun memeluk sahabatku ini dengan erat. Aku sangat terharu mendengar pengakuannya itu. Perasaanku berkecamuk antara kaget, takut, bimbang dan juga bahagia. Kebahagian yang kurasakan seperti salju yang turun pada saat musim panas berlangsung. Bahagia karena harapanku selama ini telah benar-benar Allah wujudkan melalui pengakuan Robbani barusan. Inilah jalan cinta yang hakiki dalam menempuh jalan ketaqwaan kepada Allah Ta’alaa.

Hariku untuk selanjutnya sangat berbeda dari seperti biasanya. Sekarang ini mata air keluhuran dalam relung hatiku menghiasi setiap derap langkah kehidupan yang memancarkan energi positif. Ini adalah kekuatan cinta yang memberikan pemberdayaan menuju titik perubahan. Dengan kemampuan itulah seorang pecinta sejati terus berusaha agar cintanya tak kandas di tengah jalan. Seperti kata Quddamah bahwa jatuh cinta adalah peristiwa paling penting dalam sejarah kepribadian seseorang. Mengubah seorang pengecut menjadi pemberani, yang pelit jadi dermawan, yang malas jadi rajin, yang pesimis jadi optimis, yang kasar jadi lembut. Dan cinta ini kepada sosok perempuan itu merupakan pengejawatahan cinta tertinggi nan hakiki kepada Allah.

Raihan, teman dekatku selain Robbani. Setelah mengetahui perihal tentang diriku terus berkomentar banyak sekali. Salah satunya adalah perbedaan umurku dengan sosok perempuan itu. Ya, aku memang lebih muda 10 bulan dengan dirinya. Tapi, ini bukanlah sesuatu yang perlu dipermasalahkan. Aku menginginkan seseorang yang dapat menjadi pendampingku seperti Khadijah ra. istri Rasulullah saw. Seorang pendamping hidup dalam mengemban amanah risalah Islam yang dipegang suaminya di saat sedih dan senang. Seperti peristiwa turunnya wahyu pertama kali kepada Rasulullah saw. Saat itu, Rasulullah sungguh merasakan ketakutan dan kekhawatiran yang besar. Khadijah yang penuh dengan rasa kasih sayang nan lembut hatinya adalah tempat beliau melimpahkan segala perasaan hati yang besar itu untuk mendapatkan rasa tentram dan damai. Saat pulang dari gua hira itu Khadijah berkata kepada beliau,

“Wahai putra pamanku. Bergembiralah dan tabahkan hatimu. Demi Dia Yang memegang hidup Khadijah. Aku berharap kiranya engkau akan menjadi Nabi atas ummat ini. Sama sekali Allah takkan mencemooh kau; sebab engkaulah yang mempererat tali kekeluargaan, jujur dalam kata-kata, kau yang mau memikul beban orang lain dan menghormati tamu dan menolong mereka yang dalam kesulitan atas jalan yang benar.” Khadijah adalah seorang istri yang sangat baik tutur perkataannya.

***

Hari mulai beranjak senja. Pemandangan puncak semakin indah dengan hiasan lazuardi langit yang menawan. Basuhan wudhu membuat kesegaran yang berlebih di puncak ini. Apalagi setelah itu mendirikan shalat ashar berjama’ah dengan teman-teman kampus. Lengkaplah kebahagianku saat ini dalam mengenang semua seluruh kejadian bersama yang tak terlupakan selama 4 tahun di ITB. Dan sampai saat ini aku masih terus akan bercerita tentang kenanganku ini.

Diriku hanya bisa tersenyum mengingat kenangan indah yang takkan pernah kulupakan itu. Saat itu aku berpikir itu adalah jalan terbaik yang diberikan Allah kepadaku. Karena aku sangat berharap kepada Allah agar Ia menjadikan sosok perempuan yang kucintai sebagai seseorang yang mendampingi hidupku. Dan  aku pun juga merasakan kebersamaanku dengan Allah seperti sangat dekat sekali dalam pengawasan dan dukunganNya. Ya, saat itu aku sangat berharap kepada Allah. Tapi, Allah masih berkehendak lain.

***




Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Maha  suci  Allah. Semua penciptaanNya yang indah ini hanya dapat kita nikmati atas kehendak dan cintaNya Yang Maha Agung. Kehidupan yang ada dunia ini juga adalah karunia Allah kepada makhluk-makhluk cipataanNya. Dari kehidupan kecil uniseluler  yang tak terlihat hingga kehidupan besar multiseluler yang selalu terlihat dengan sempurna. Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kehidupan yang kompleks ini sehingga dapat terus mengecap manisnya ukhuwah islamiyah diantara kita semua.

Ya Rabb, limpahkanlah selalu shalawat dan salam  kepada manusia terpilih yang selalu dijaga olehMu. Seseorang yang telah berjasa dalam menyampaikan risalah Islam yang indah ini dengan baik. Seorang khotmul anbiyaa yang berhasil menerangi dunia dengan cahaya agamaMu  dari kegelapan jahiliyyah yang menyesatkan. Dialah Nabi besar Muhammad saw yang selalu kami rindukan untuk bertemu dengannya di surga kelak. Allahumma Aamiin.

“Dan diantara  manusia ada orang yang menyembah Tuhan selain Allah sebagai tandingan, yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapaun orang-orang beriman sangat besar cintanya kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat dzalim itu melihat, ketika mereka melihat azab  (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat berat azabNya.” 1

“Sesungguhnya Allah SWT pada hari kiamat berfirman : “Dimanakah orang yang cinta mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan menaungi dengan menunggu-Ku dihari yang tiada naungan melainkan naungan-Ku”  2

Kehidupan kan menjadi indah manakala kita selalu menghiasi diri dengan keikhlasan penuh cinta. Cinta akan selalu mengantarkan kita pada kebahagian yang haqiqi jika dalam implementasi cinta kita tertuju pada Allah. Selalu mengharapkan  ridho dan cinta Ilaahi. Dengan begitu Allah kan memberikan naunganNya kepada kita semua apabila saling mencintai karena keagunganNya.

Akhi, semoga Allah memberikan perlindunganNya selalu kepadamu.
Yang paling utama adalah kuucapkan banyak terima kasih kepadamu.
Jazakallah khairan jazaa..
Karena Allah telah menjadikan kau sebagai seseorang yang telah memberikanku sebuah pelajaran terindah dalam hidupku akan arti yang haqiqi dari cinta.
Sepanjang perjalanan hidupku inilah ku bisa mendapatkan kebahagian cinta yang sesungguhnya saat melihat dirimu.
Kau seperti pelita cahaya yang menerangi jalan hidupku.
Memberikan cinta dengan penuh ketulusan.
Hingga sebuah motivasi besar keluar melonjak dalam  diri.
Untuk bergerak pada titik perubahan yang menyeluruh
Mencintai karena Allah Ta’aala.

Semoga Allah terus selalu menjaga hati orang-orang beriman.
Salah satu tolak ukur tingkatan keimanan seseorang ialah rasa saling mencintainya. Ia saling mencintai saudaranya karena Allah. Tak lain hanya untuk mendapatkan naunganNya di akhirat kelak. Ukhuwah islamiyah selalu ia jaga dengan semua saudara perjuangannya. Ia memiliki prinsip hidup yang jelas tertuju pada Allah. Seluruh saudaranya memandang dirinya sebagai seorang figur teladan yang patut diikuti. Itu karena ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri. Ia adalah seorang ikhwan yang rendah hati  menempati ruang khusus di relung hatiku.

Dalam sepatah kalimat ini ku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu. Walaupun hati seperti tersayat tak ingin menyampaikan. Tapi, ini harus kusampaikan kepadamu sebagai wujud rasa cintaku kepada Allah melalui dirimu. Sebelum itu perkenankanlah ku meminta maaf  atas semua kesalahan diriku dan Robbani kepadamu. Semoga Allah melimpahkan ampunanNya untuk kita semua.

Pekan ini insya Allah ku kan berangkat  menuju Turki. Semata-mata perjalanan jauh ini kulakukan untuk terus melanjutkan jihad dalam menuntut ilmu. Selalu berharap mendapatkan tempat yang mulia di sisi para Syuhada. Hanya dengan ilmu kita dapat mudah mendapatkan sesuatu yang tak bisa kita dapatkan sebelumnya dan menjadi lebih mulia dengan perlindungan malaikat yang senang pada orang-orang yang berilmu.

Dalam kesempatan ini ku hanya bisa mengucapkan banyak permintaan maaf. Aku akan mulai menetap di Turki bersama keluarga tercinta. Dan ini yang harus kusampaikan. Insya Allah disana ku kan menikah dengan seorang anak teman lama ayahandaku. Pernikahan itu harus kulaksanakan karena itu merupakan wasiat terakhir ayahanda.
Beliau berkata bahwa seseorang itu adalah orang yang paling cocok untukku. Aku memercayainya karena ku sangat mencintai ayahanda yang telah meninggalkan kami.

Semoga engkau mendapatkan wanita sholihah yang jauh kebih baik mendampingimu.
Terima kasih kuucapkan sebanyaknya karena kau telah menjadi salah satu seseorang yang menghiasi kebahagian hidupku.

Jazakallah khairan katsiiran ya akhi…
Uhibbuka fillah…


Ukhtuka al mahbuub


  “Ya Allah, kenapa akhir dari semuanya menjadi seperti ini? Berikanlah kepada hamba kekuatan untuk melewati semua ini dengan baik. Jadikanlah ini semua sebagai pelajaran terindah bagiku, Ya Rabb.”

Aku masih terus menangis dengan sesenggukan. Aku masih belum percaya atas apa yang kubaca dari lembaran kertas yang sedang kupegang. Tapi, ini semua memang telah terjadi atas ketentuan Allah. Walaupun diriku belum bisa menerima atas kenyataan yang terjadi. Aku hanya bisa menangis dan terharu membaca surat dari sosok perempuan yang kucintai dan dicintai olehnya.

Bis yang kunaiki akhirnya telah tiba di Bandung. Kulangkahkan kakiku dengan lemas keluar dari bis menuju masjid terdekat. Sejak pulang dari Bogor aku belum sempat menunaikan shalat dzuhur. Aku ingin lebih mendekatkan diri pada Allah untuk bisa mendapatkan hikmah yang akan terus mengingatkanku untuk kedepannya.

Dalam hatiku masih merasakan betapa sesaknya perasaanku setelah membaca surat dari sosok perempuan itu. Surat itu kuterima ketika masih berada di Bogor mengunjungi keluarga untuk bersilaturrahim. Tak disangka surat itu sebenarnya telah ditulis sejak sebulan lalu ketika ia wisuda SI angkatan 2010. Robbani baru mengirimkannya ketika sosok perempuan itu telah pergi menuju Turki. Tapi, aku yakin Robbani melakukan itu semua untuk kebaikan kami bertiga.

***

Senyuman pada wajahku semakin mengembang mengingat akhir dari ceritaku ini. Itu adalah salah satu jejak kehidupan yang membahagiakan. Memberikan pelajaran berharga bagiku bagaimana cinta bekerja dalam kehidupan manusia.Cinta selalu berawal dan berakhir pada Allah. Karena itulah kehidupan pula dari awal hingga akhir dapat berjalan dengan seimbang dan bersinambungan karena kehendak dan cintaNya. Itulah motif Allah dalam menjalankan pergerakan kehidupan ini. Karena hanya dengan cinta kehidupan kita tercermin dengan kebenaran.

Cinta juga merupakan pekerjaan orang-orang yang kuat. Pecinta sejati yang dapat merefleksikan dirinya dalam penumbuhan kepribadian. Karena mencintai adalah pekerjaan yang membutuhkan kepribadian yang kuat. Maka pecinta sejati hanya mengenal bagaimana ia bisa terus menumbuhkan kepribadiannya dalam mencintai kekasih yang dicintainya.

Cinta dan kepribadian merupakan dua kata yang sama-sama saling tumbuh dan berkembang. Seorang pecinta sejati tahu bahwa mencintai adalah pekerjaan jiwa dalam mengatur gagasan, emosi dan tindakan. Dia tahu mencintai adalah pekerjaan yang membutuhkan keputusan yang besar. Karena mencintai itu adalah bagaimana kita dapat memberi sesuatu kepada kekasih yang kita cintai.

Hakikat cinta hanya bagaimana kita memberi pada kekasih yang kita cintai. Memberikan dengan penuh ketulusan. Bagaimana kita dapat selalu memperhatikan dirinya dalam penumbuhan dirinya. Memberikan semangat pelayanan dalam penumbuhan kepribadian dirinya. Merawat dengan kebajikan di setiap aktivitas kehidupannya. Dan melindungi dengan keberanian agar kekasih yang kita cintai dapat selalu tenang dan bergantung dalam kebersamaan dengannya.

Sayap cinta yang tak pernah patah. Hanya seorang pecinta sejati yang tak pernah mematahkan sayap cintanya. Karena kasih yang yang tak sampai tak pernah menyurutkan rasa mencintai dirinya kepada orang yang dikasihi. Kesempatan itu pasti kan datang kembali. Memberikan yang terbaik untuk kita dalam melakukan pekerjaan jiwa yang agung ini. Maka pecinta sejati selamanya hanya berkata,”Apa yang akan keberikan?”. Tentang ‘siapa’ yang akan kita berikan itu menjadi sekunder. Karena Allah pasti memberikan yang terbaik untuk kita jika kita mencintai karena keagunganNya.

Kegelapan mulai menyelimuti senja hari yang indah ini. Kulangkahkan kakiku menuju pintu keluar masjid. Aku tetap percaya. Sosok perempuan itu pun turut bahagia dengan kekasih hidupnya sekarang. Dan aku pun selalu percaya. Allah pasti akan  memberikan kekasih terbaik untukku dalam melakukan pekerjaan jiwa yang agung. Cinta mencintai karena kebesaranNya untuk mendapatkan naunganNya kelak di hari kiamat nanti.

Kupu-kupu itu terus terbang dengan eloknya. Pesona Sasakia charondra yang dipancarkan dari sayap hitam dengan corak ungu itu tidak dapat luput dari pandangan. Ia terus terbang mencari kekasih dirinya yang tak lain adalah kuncup bunga yang mekar menunggu kedatangan dirinya. Kupu-kupu itu pun tahu. Bahwa dia dapat hidup dengan kehendak dan cintaNya. Dia tak pernah mematahkan sayapnya walaupun tak mendapatkan apapun dari kuncup bunga yang ia kunjungi. Karena sayap cinta takkan pernah patah.


“Dan diantara tanda-tanda (kebesaran)Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenis-jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan Dia menjadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh , pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.” 3

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu), bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga)” 4

Catatan kaki :

  • Al-Baqoroh :165
  • H.R. Muslim
  • Ar-Ruum : 21
  • An-Nuur : 26 
http://www.dakwatuna.com/2010/sayap-cinta-yang-tak-pernah-patah-2/